Rekor Termahal Lagi! Dolar Singapura Dihargai Rp 11.552

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 April 2020 13:01
Level tersebut merupakan yang termahal sepanjang sejarah, mematahkan rekor sebelumnya Rp 11.536,3/SG$ yang dicapai Rabu kemarin.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Singapura kembali menguat melawan rupiah pada perdagangan Kamis (2/4/2020), sekali lagi mencetak rekor termahal sepanjang sejarah.

Dolar Singapura menguat nyaris 1% ke Rp 11.552,7/SG$ pagi ini. Level tersebut merupakan yang termahal sepanjang sejarah, mematahkan rekor sebelumnya Rp 11.536,3/SG$ yang dicapai Rabu kemarin.

Posisi dolar Singapura sedikit terkoreksi, pada pukul 12:45 WIB berada di Rp 11.545,44/SG$ atau menguat 0,88% di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv. 


Dampak pandemi virus corona (COVID-19) yang sudah terlihat di sektor riil memberikan pukulan bagi rupiah.

Rabu kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) Rabu kemarin melaporkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tercatat 885.067 di bulan Februari. Anjlok 30,42% dibandingkan bulan sebelumnya dan 28,85% dibandingkan periode yang sama pada 2019.



COVID-19 juga sudah menggerogoti sektor manufaktur RI, yang aktivitasnya mengalami kontraksi di bulan Maret.

Aktivitas industri dicerminkan oleh Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, yang menggambarkan pembelian bahan baku/penolong dan barang modal yang akan digunakan untuk proses produksi pada masa mendatang. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awal, di atas 50 berarti industri sedang ekspansif sementara di bawah 50 artinya kontraktif alias mengkerut.

IHS Markit melaporkan PMI Indonesia Maret 2020 adalah 45,3. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51,9 sekaligus menjadi yang terendah sepanjang sejarah pencatatan PMI yang dimulai pada April 2011.

Itu artinya sektor manufaktur RI sudah mulai menurunkan hingga menghentikan produksinya.
Kondisi seperti ini masih akan berlangsung setidaknya dua bulan ke depan mengingat puncak pandemi COVID-19 di Indonesia diperkirakan pada April dan Mei.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, kemarin mengatakan ada 2 skenario dampak COVID-19 ke perekonomian, yakni berat dan sangat berat. Dalam skenario berat, PDB diprediksi tumbuh 2,3%, sementara skenario sangat pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa minus 0,4%.

Dampak negatif di sektor finansial sudah terlebih dulu dirasakan. Pasar saham dan obligasi AS terus mengalami aksi jual.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat memberikan update tentang kondisi perekonomian terkini Selasa siang mengatakan dana asing masih pergi dari pasar Indonesia. Ia mengatakan, terjadi outflow atau aliran dana asing keluar hingga Rp 145,1 triliun.

"Terdiri dari outflow Rp 131,1 triliun di pasar SBN dan Rp 9,9 triliun di pasar saham," katanya.

Terpukulnya sektor finansial dan sektor riil tersebut membuat pelemahan rupiah tak terhindarkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading