Bursa AS Semarak, Nasdaq Futures Sentuh Batas Atas Trading

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
20 March 2020 18:14
Kontrak berjangka saham AS melompat pada Jumat (20/3/2020) pagi waktu setempat, mengindikasikan penguatan Wall Street untuk hari kedua.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) bursa saham Amerika Serikat (AS) melompat pada perdagangan Jumat (20/3/2020) pagi waktu setempat, mengindikasikan penguatan lanjutan untuk hari kedua.

Bahkan, kontrak berjangka untuk indeks Nasdaq menyentuh batas atas perdagangan, yakni sebesar 5%, yang jika terlewat berujung pada penghentian sementara perdagangan (trading halt).

Pada pukul 06:45 pagi waktu setempat (17:45 WIB), Dow futures naik sekitar 700 poin, mengimplikasikan akan ada penguatan indeks bursa acuan utama AS lebih dari 600 poin pada pembukaan perdagangan Jumat. Indeks S&P 500 futures naik sekitar 3%.

Grup CME juga hentikan sementara perdagangan kontrak futures saham AS di beberapa level di perdagangan overnight demi menekan panic trading. Beberapa kabar positif menjadi pemicu penguatan tersebut.

Pertama, California menginstruksikan warganya untuk 'tetap di rumah', yang merupakan langkah drastis yang memicu ekspektasi bahwa penyebaran virus corona bisa ditekan secara signifikan sehingga tak banyak memukul perekonomian.

Kedua, harga minyak masih terus menguat, membalik kekhawatiran sebelumnya di mana harga minyak yang terlalu murah bisa memicu resesi yang lebih parah. Harga minyak di pasar berjangka naik 7% setelah pada Kamis menguat.

Ketiga, dolar AS melemah setelah bank sentral bertindak. Aksi buru dolar terjadi di skala global di tengah kekhawatiran ancaman pemburukan virus corona. Dolar AS dinilai lebih aman dan lebih likuid dibandingkan aset lainnya. Penguatan dolar berdampak buruk bagi eksportir AS.

Saham-saham teknologi tercatat menguat, seperti Microsoft yang naik lebih dari 6% di pasar pra-pembukaan. Sebelumnya, saham-saham terkoreksi menyusul kian meluasnya wabah corona.

Menurut Bridgewater Ray Dalio, krisis corona bisa berujung pada kerugian korporasi AS hingga US$ 4 trillion, sehingga pemerintah harus turun tangan. "Yang terjadi saat ini belum pernah terjadi dalam hidup kita sebelumnya... Ini adalah krisis... Akan ada orang yang memikul rugi besar," tutur pendiri Bridgewater Ray Dalio kepada CNBC International.  

TIM RISET CNBC INDONESIA





(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading