Bursa Australia Ambrol Hingga 9%, Pimpin Koreksi Asia Pasifik

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
16 March 2020 12:48
Indeks S&P/ASX 200 Australia terpelanting 9,7%, menyusul ambruknya saham sektor keuangan hingga indeks sektoralnya longsor 8%. Foto: Bursa Australia ASX (REUTERS/Daniel Munoz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham di kawasan Asia Pasifik anjlok berjamaah pada Senin (16/3/2020), dipimpin indeks S&P/ASX 200 Australia yang terpelanting 9,7% (537 poin) ke level 5.002, menyusul ambruknya saham sektor keuangan hingga indeks sektoralnya longsor 8%.

Koreksi merata di bursa kawasan terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) pada Minggu memangkas suku bunganya secara mendadak, untuk kedua kalinya dalam dua pekan. Kini suku bunga Negeri Adidaya tersebut di level 0-0,25% atau kembali di era 2015.

Di bursa Australia, saham ANZ (Australia and New Zealand Banking) Group anjlok 9,79%, Commonwealth Bank of Australia merosot 7,17%, Westpac fell turun 8,72% dan National Australia Bank terpangkas 8,58%.

Secara umum, Indeks MSCI (Morgan Stanley Capital) non-Jepang melemah 3,16%. Indeks Hang Seng di Hongkong drop 2,19%, demikian juga dengan bursa di China Daratan di mana indeks Shanghai turun 0,55% sedangkan indeks Shenzhen tergelincir hingga lebih dari 1%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 bergerak berayun dari zona positif dan negatif dan berakhir melemah 0,2% pada sesi pertama. Indeks Kospi Korea juga di zona negatif dengan melemah 1,2%. Indeks Straits Times anjlok 3,19% dan indeks Nifty 50 India melemah 5,72%.

Keputusan The Fed memangkas suku bunganya secara mendadak justru memicu reaksi negatif dari pasar dengan indeks futures Dow Jones terkoreksi hingga menyentuh batas maksimumnya sebesar 5%. Setelah batas ini tersentuh, perdagangan pun dihentikan sementara (trading halt).

"Ini bukan stimulus, ini... aktivitas yang, dalam satu hal, mencegah keterpurukan," tutur Daniel Gerard, perencana aset senior State Street Global Markets, kepada CNBC International pada Senin. "Tujuannya adalah itu, The Fed keluar begitu kuat untuk mencegah krisis."

Investor global terlihat mengalihkan asetnya ke instrumen minim risiko (safe haven). Mata uang yen, yang seringkali diburu di kala krisis, diperdagangkan di level 106,82 per dolar AS atau menguat dari 108 pekan lalu.

"Ironisnya, pasar sepertinya melihat response The Fed sebagai sebuah kepanikan, memperburuk kecemasan yang sudah ada; terutama karena kasus COVID-19 melonjak secara global, mendorong lebih ketatnya perbatasan antar negara," tutur Vishnu Varathan, Kepala Perencana Investasi dan Ekonom Mizuho Bank, dalam laporan risetnya.

Ketika mengumumkan keputusan pemangkasan suku bunga AS pada Minggu, The Fed mengatakan bahwa "wabah virus corona telah mengancam warga dan mengganggu aktivitas ekonomi di banyak negara, terutama di AS."

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

The Fed Borong Obligasi Korporasi Rp 124 T


(ags/ags)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading