Bos BEI: Banyak Saham Bagus, Investor Harus Rasional

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
13 March 2020 11:53
Untuk itu pihak bursa berusaha untuk menahan langkah impulsif yang dilakukan investor yang terus-terusan melakukan aksi jual.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan kebijakan-kebijakan yang selama beberapa hari terakhir dikeluarkan oleh otoritas bursa dilakukan untuk meminimalisasi langkah investor untuk melakukan panic selling.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan kondisi pasar saat ini tak hanya terjadi di Indonesia namun juga terjadi secara global. Untuk itu pihak bursa berusaha untuk menahan langkah impulsif yang dilakukan investor yang terus-terusan melakukan aksi jual.

"Kalau flashback kita larang short sell, lalu auto rejection kita persempit dari 10% dan tadi malam jadi 7% minus ini agar supaya at least investor ga ikut jual. Karena pada prinsipnya kalau dilihat mendalam banyak perusahaan yang baik (untuk) di-collect (sahamnya), sayang di harga sekarang dijual makanya kita coba investor lebih rasional jangan ikut panik jual tanpa pertimbangkan rasionalitas. Itu kita harapkan," kata Inarno di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (13/3/2020).



Dia menyebutkan, beberapa kebijakan yang dikeluarkan tersebut bukan dianggap sebagai protokol krisis, melainkan hanya respon pasar yang lumrah dilakukan. Bursa menggunakan parameter volatility index (VIX) yang menggambarkan volatilitas pasar dalam hitungan hari, minggu dan bulan.

Selain itu, bursa mengklaim seluruh kebijakan yang dikeluarkan merupakan hasil komunikasi dengan pelaku pasar sehingga kebijakan-kebijakan ini dianggap sudah mengakomodasi permintaan pasar.

Lebih lanjut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD N Yetna mengatakan kondisi saat ini justru dianggap sebagai waktu yang tepat untuk membeli saham-saham di harga murah.


Menurut data yang dihimpun oleh BEI, hingga September 2019 lalu 79% perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa masih membukukan laba bersih. Lebih tinggi ketimbang dengan bursa di kawasan regional Asia Tenggara, seperti Malaysia yang hanya sebesar 68% dan Singapura yang sebesar 64%.

"Posisi per audited 31 Desember 2019 batas waktunya masih ada. Sampai saat ini dari data yang disampaikan ada 59 emiten yang sudah sampaikan laporan keuangan. Pertumbuhan net income year on year masih growth 4% dengan catatan masih tunggu perusahaan yang masih belum sampaikan laporan keuangan," kata Yetna dalam kesempatan yang sama.

Dengan data tersebut, kata Yetna, bisa dibilang return of equity (ROE) emiten di BEI lebih tinggi ketimbang dengan di bursa saham lain.

[Gambas:Video CNBC]





(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading