IHSG Rentan! Wamen BUMN Dorong Dapen & Taspen Masuk ke Pasar

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
11 March 2020 10:12
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyampaikan 12 perusahaan pelat merah siap buyback.
Tangerang, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyampaikan 12 perusahaan pelat merah siap melakukan pembelian kembali (buyback) saham yang beredar di pasar. Tak tanggung-tanggung, total anggaran yang dialokasikan 12 BUMN tersebut mencapai Rp 7 triliun-Rp 8 triliun.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan dalam 1-2 hari ini, ke-12 BUMN tersebut akan melakukan buyback secara bertahap sebagai taktik untuk menahan laju penjualan investor asing (net sell).

Pada perdagangan Rabu pagi ini (11/3/2020), mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 0,01% di level 5.220, kendati sempat menyerah di level terendah 5.178. Hari ini asing mulai masuk di pasar reguler Rp 33,45 miliar.


"Kami sudah bicara, ada 12 BUMN, ada BMRI, BBRI, [BUMN] sudah siapkan Rp 8 triliun, dalam 1-2 hari ini mereka lakukan bertahap dan taktik untuk tahan dalam negeri tahan sell off asing. Dalam negeri mulai masuk juga," kata Kartiko di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (11/3/2020).

"[BUMN juga] galang dapen [dana pensiun] dan Taspen untuk bantu untuk saham biar stabil," kata mantan bos PT Bank Mandiri Tbk ini.

"Tergantung likuiditas masing-masing [BUMN], kalau yang gak gak diberitakan buyback pasti akan fundamental lebih baik dari harga," jelas Tiko, panggilan akrabnya.

Sebelumnya Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan penurunan harga saham perusahaan pelat merah memang melebihi fundamental.

"Tadi sudah koordinasi untuk buyback saham, ada 12 BUMN yg akan buyback nilainya Rp 7 triliun- Rp 8 triliun," kata Arya di Kantor Kementerian BUMN, setelah melakukan pertemuan dengan para direksi perusahaan pelat merah, Selasa (10/3/2020).


Arya menyebutkan, BUMN yang siap melakukan buyback tersebut yaitu dari sektor perbankan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Dari sektor konstruksi, ada PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Lalu dari sektor pertambangan, ada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Timah Tbk (TINS).

"Periodenya udah mulai, strateginya diserahkan ke masing-masing perusahaan. Alasannya IHSG turun, baru nilai fundamental perusahaan melebih nilai transaksi di pasar," kata Arya.

[Gambas:Video CNBC]


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading