Dow Melesat 800 Poin di Pembukaan Sambut Stimulus Trump

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
10 March 2020 20:43
Bursa saham AS melejit pada pembukaan perdagangan Selasa (10/1/2020) menyambut kebijakan stimulus yang disiapkan Trump

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melejit pada pembukaan perdagangan Selasa (10/1/2020) menyambut kebijakan stimulus yang disiapkan Presiden AS Donald Trump untuk mengatasi efek virus corona terhadap perekonomian terbesar dunia itu.

Namun, laju penguatan tersebut sedikit melambat setelah seorang sumber di Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintahan Trump masih jauh dari kesiapan untuk merilis proposal secara spesifik.

Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 866,7 poin (3,7%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB), dan sedikit surut menjadi 784,8 poin (3,3%) selang 20 menit kemudian ke 24.629,05. Indeks Nasdaq naik 203 poin (2,55%) ke 8.153,7 dan S&P 500 tumbuh 75,4 poin (2,7%) ke 2.819,6.


"Meski kita percaya bahwa paket stimulus fiskal akan dibuat, waktu dan cakupannya masih tak pasti," tutur Ed Mills, analis di Raymond James, dalam laporan risetnya yang dikutip CNBC International.

Presiden AS Donald Trump pada Senin mengumumkan rencana "pemangkasan atau pembebasan pajak penghasilan (PPh) perorangan" untuk meredam dampak negatif wabah corona. Insentif pajak itu muncul setelah paket belanja senilai US$ 8,3 miliar dirilis bulan lalu.

Kemarin, Dow Jones dan S&P 500 anjlok masing-masing 7,8% dan 7,6%, menjadi koreksi terburuk sejak 2008. Koreksi Dow sebesar 2.013 poin kian membawanya dekat ke area bearish, istilah bagi bursa saham yang anjlok 20% atau lebih dari level tertingginya. Wall Street bahkan sempat dihentikan perdagangannya selama 15 menit pada pembukaan kemarin.

Di sisi lain, harga kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) membaik degan kenaikan sebesar 9% ke US$ 33,93 per barel sedangkan harga kontrak minyak Brent menguat 9,3% ke US$ 37,55 per barel.

Kemarin, harga minyak anjlok terburuk sejak tahun 1991, setelah Arab Saudi memangkas harga jual untuk April setelah gagal mencapai kesepakatan pemangkasan produksi di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries/OPEC).

"Persoalan ganda dari problem yang berlanjut dari virus corona dan perang harga minyak yang diberlakukan Arab Saudi telah memicu koreksi bursa saham di seluruh dunia," tutur Matthew Maley, Kepala Perencana Investasi Miller Tabak, dalam catatan risetnya yang dikutip CNBC International.

Di tengah kondisi demikian, investor memburu aset minim risiko (safe haven) karena khawatir resesi kian mendekat. Akibatnya, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS bertenor 10-tahun anjlok di bawah 0,5% untuk pertama kali, sedangkan yang tenor 30 tahun sempat tembus ke bawah 1%.

Hanya saja, imbal hasil tersebut berbalik menguat pada Selasa, dengan kembali menguat di atas 0,7% untuk surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun dan 1,232% untuk yang bertenor 30 tahun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading