Virus Corona Masuk Indonesia, Harga Obligasi Turun Lagi

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
02 March 2020 19:01
Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi, di tengah kekhawatiran pelaku pasar akibat virus corona Wuhan yang masuk ke Indonesia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah kembali terkoreksi pada perdagangan hari ini, di tengah kekhawatiran pelaku pasar akibat virus corona Wuhan (Covid-19) yang secara resmi diumumkan telah masuk ke Indonesia.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain. Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan keuntungan yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan kenaikan yield 10,3 basis poin (bps) menjadi 6,16%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

 

Yield Obligasi Negara Acuan 2 Mar'20


 

 

 

 

Seri

Jatuh tempo

Yield 28 Feb'20 (%)

Yield 2 Mar'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 28 Feb'21 (%)

FR0081

5 tahun

6.065

6.168

10.30

6.1606

FR0082

10 tahun

6.887

6.963

7.60

6.9757

FR0080

15 tahun

7.465

7.539

7.40

7.5159

FR0083

20 tahun

7.475

7.501

2.60

7.5583

Sumber: Refinitiv

 

 

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih melemah. Indeks tersebut turun 1,22 poin (0,44%) menjadi 274,76 dari posisi akhir pekan lalu 275,98.

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 587 bps, melebar dari posisi akhir pekan lalu 576 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun 3,9 bps hingga 1,08% dari posisi akhir pekan lalu 1,12%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada yield pasangan seri 3 bulan-5 tahun dan 3 bulan-10 tahun. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

 

 

Yield US Treasury Acuan 2 Mar'20

Seri

Benchmark

Yield 28 Feb'20 (%)

Yield 2 Mar'20 (%)

Selisih (Inversi)

Satuan Inversi

UST BILL 2019

3 Bulan

1.285

1.293

3 bulan-5 tahun

45.5

UST 2020

2 Tahun

0.878

0.753

2 tahun-5 tahun

-8.5

UST 2021

3 Tahun

0.871

0.761

3 tahun-5 tahun

-7.7

UST 2023

5 Tahun

0.912

0.838

3 bulan-10 tahun

20.8

UST 2028

10 Tahun

1.126

1.085

2 tahun-10 tahun

-33.2

Sumber: Refinitiv

 

 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.050 triliun SBN, atau 37,19% dari total beredar Rp 2.825 triliun berdasarkan data per 27 Februari.

Angka itu menunjukkan kepemilikan investor asing masih keluar dari pasar SUN senilai Rp 14,53 triliun sejak akhir pekan lalu, sedangkan sejak awal bulan masih defisit Rp 26,17 triliun. Sejak awal tahun ini, posisi investor asing masih negatif Rp 10,97 triliun dibanding posisi akhir Desember 2019 Rp 1.061,86 triliun, sehingga persentasenya masih turun dari 38,57% pada periode yang sama.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, mayoritas harga obligasi negara di dunia menguat sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang memburu obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen negatif terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.

 

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 28 Feb'20 (%)

Yield 2 Mar'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

6.69

6.78

9.00

China (A+)

2.798

2.787

-1.10

Jerman (AAA)

-0.612

-0.63

-1.80

Prancis (AA)

-0.293

-0.305

-1.20

Inggris Raya (AA)

0.442

0.391

-5.10

India (BBB-)

6.371

6.342

-2.90

Jepang (A)

-0.135

-0.133

0.20

Malaysia (A-)

2.818

2.804

-1.40

Filipina (BBB)

4.409

4.376

-3.30

Rusia (BBB)

6.31

6.49

18.00

Singapura (AAA)

1.385

1.426

4.10

Thailand (BBB+)

1.075

1.08

0.50

Amerika Serikat (AAA)

1.126

1.087

-3.90

Afrika Selatan (BB+)

9.105

9.115

1.00

Sumber: Refinitiv




TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading