Bisnis Luar Negeri Naik Pesat, BNI Cetak Laba Rp 15,38 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
22 January 2020 16:02
Peningkatan laba bersih tersebut pertumbuhan bisnis perseroan, meskipun ekonomi sedang melambat.
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membukukan peningkatan laba bersih 2,5% menjadi Rp 15,38 triliun pada 2019 dibandingkan periode yang sama 2019. Peningkatan laba bersih tersebut pertumbuhan bisnis luar negeri perseroan.

"Bisnis internasional BNI semakin dapat diandalkan dan menjadi unsur pembeda utama antara BNI dengan bank-bank yang berbasis pada pembiayaan korporat lain di Indonesia. BNI tidak hanya merupakan bank korporat yang melayani nasabah lokal, melainkan juga nasabah lokal yang beranjak menjadi global player. Hanya dengan 8 outlet di luar negeri, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis yang signifikan," ujar Direktur Keuangan BNI Ario Bimo, dalam konferensi pers, Rabu (22/1/2020).

Dari seluruh nasabah korporat BNI, sebanyak 15 - 25% di antaranya adalah para pebisnis global. Untuk itu, keberadaan kantor BNI Cabang luar negeri diperlukan untuk memenuhi kebutuhan transaksi para nasabah BNI yang bermain global. Dengan demikian BNI membuka kantor cabang luar negeri untuk Follow the customer and follow the trade.


Hal tersebut disampaikan perseroan melalui siaran pers yang diterima CNBC Indonesia. Dalam siaran pers tersebut disebutkan, di tengah kondisi perekonomian yang menantang, bisnis BNI masih tetap tangguh di sepanjang tahun 2019.

Kinerja kantor - kantor BNI cabang luar negeri menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kredit yang disalurkan melalui kantor BNI cabang luar negeri tumbuh 9,9% year on year (yoy) yaitu dari Rp 38,59 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 42,39 triliun pada akhir tahun 2019.

Kredit tersebut ditopang oleh pendanaan yang bersumber dari Non Conventional Funding sebesar Rp 21,69 triliun pada 2019 atau tumbuh 35,1% dari tahun 2018 yang mencapai Rp 16,06 triliun. Sumber pendanaan lain adalah CASA sebesar Rp 5,21 triliun pada tahun 2019 atau tumbuh 2,8% yoy di atas tahun 2018 sebesar Rp 5,07 triliun.

Kinerja penyaluran kredit dari cabang luar negeri tersebut menghasilkan Pendapatan Bunga sebesar Rp 3,36 triliun atau tumbuh 20,5% yoy dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 2,79 triliun.

Kinerja bisnis kantor-kantor BNI cabang luar negeri ini juga dapat tergambarkan dari pendapatan non bunga (FBI) yang meningkat 105,3% dari Rp 243,67 miliar pada tahun 2018 menjadi Rp 499,74 miliar pada tahun 2019.

Atas kinerja tersebut, seluruh kantor cabang luar negeri mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp 1,1 triliun pada akhir tahun 2019.

Kantor-kantor BNI cabang luar negeri kini semakin mandiri karena ketergantungan pendanaan dari kantor pusat semakin menurun. Dimana sebelum tahun 2014, 80% sumber pendanaan kantor BNI cabang luar negeri masih berasal dari kantor pusat di Jakarta. Pada tahun 2019, tinggal 40%.

BNI optimis telah berada pada jalur yang seharusnya dalam pengembangan bisnis internasionalnya. Ini terlihat dari pertumbuhan CAGR aset pada periode 2014 - 2019 yang mencapai 20,6% per tahun. Pada periode yang sama, kredit yang disalurkan pun tumbuh CAGR 30,7% per tahun, hingga mencatat pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 45,5% per tahun pada kurun waktu 2014 -2019.

Hal tersebut ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 8,6% yoy, yaitu dari Rp 512,78 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp 556,77 triliun pada akhir 2019. Pertumbuhan kredit BNI tersebut masih berada di atas pertumbuhan kredit industri yaitu sebesar 6,5% hingga Oktober 2019.

Dengan pertumbuhan kredit tersebut, BNI mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp 36,6 triliun pada akhir tahun 2019 atau tumbuh 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 35,45 triliun. Pertumbuhan NII tersebut mampu menjaga ROE pada posisi 14% di akhir tahun 2019.

Kredit BNI tersebut tersalurkan ke segmen Kredit Kecil yang pada Desember 2019 tumbuh 14,2% menjadi Rp 75,4 triliun dari sebelumnya Rp 66,06 triliun pada Desember 2018. Pertumbuhan yang menonjol terjadi pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang meningkat sebesar 20,7% yoy, yaitu dari Rp 20,22 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 24,42 triliun pada 2019.

BNI juga mencatat penyaluran kredit yang tumbuh ke Segmen Kredit Konsumer, yaitu sebesar 7,7% yoy diatas tahun 2018 menjadi Rp 85,87 triliun. Dimana Kredit Tanpa Agunan masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan kredit konsumer BNI, yaitu tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 2,7 triliun.

BNI juga fokus pada penyaluran kredit pemilikan rumah atau BNI Griya karena komposisi kredit ini terhadap total Kredit Konsumer mencapai 51,4% atau mencapai Rp 44 triliun. BNI Griya tumbuh 8,3% yoy berkat berbagai perbaikan yang telah dilakukan antara lain ekspansi pada kaum milenial selaras dengan program pemerintah.

Kredit BNI juga tersalurkan ke Segmen Kredit Korporasi yang tumbuh 9,8% yoy. Kredit korporasi terutama disalurkan ke sektor usaha manufaktur, serta listrik, gas, dan air. Pinjaman infrastruktur masih menjadi salah satu prioritas dalam menumbuhkan pinjaman segmen bisnis korporasi ini, salah satunya adalah proyek jalan tol. Pembiayaan jalan tol yang dilakukan BNI difokuskan pada ruas-ruas tol dengan tingkat LHR yang tinggi, yaitu terutama ruas-ruas tol di Pulau Jawa.

Pendapatan Non Bunga
Bisnis BNI pun terus berjalan dengan dukungan pendapatan non bunga atau FBI yang tercatat sebesar Rp 11,36 triliun atau tumbuh 18,1% di atas periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 9,62 triliun. Pertumbuhan FBI ini ditopang oleh pertumbuhan recurring fee sebesar 17,7% yoy. Sekitar 27,4% dari FBI yang terhimpun, berasal dari aktivitas bisnis internasional BNI melalui kantor-kantor BNI cabang luar negeri.

Kenaikan FBI dikontribusi oleh pertumbuhan pada Segmen Konsumer Banking, yaitu komisi dari pengelolaan kartu debit yang tumbuh 39,6%; komisi pengelolaan rekening yang naik 16,3% yoy; komisi ATM yang meningkat 13,2% yoy; dan komisi bisnis kartu kredit tumbuh 10,6% yoy. FBI juga ditopang oleh aktivitas pada Segmen Bisnis Banking yang menghasilkan komisi dari surat berharga yang tumbuh 86,9% yoy; komisi kredit sindikasi tumbuh 56,8% yoy; serta komisi trade finance yang meningkat 4,8% yoy.

Akumulasi NII dengan FBI tersebut di atas membawa BNI sukses meraup Laba Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) pada akhir tahun 2019 sebesar Rp 28,32 triliun atau tumbuh 5,0% yoy, dan membukukan laba bersih sebesar Rp 15,38 triliun atau meningkat 2,5% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 15,02 triliun.

Dana Murah
Pertumbuhan bisnis BNI tersebut didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) berbiaya rendah pada tahun 2019. DPK BNI pada akhir tahun 2019 terhimpun sebesar Rp 614,31 triliun atau tumbuh 6,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 578,78 triliun.

DPK tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 22,3% yoy. Dana murah yang terhimpun tersebut memperbaiki rasio CASA BNI menjadi 66,6%. Membaiknya CASA tersebut menyebabkan BNI dapat menjaga cost of fund terjaga pada level 3,2%.

Berbagai usaha dilakukan untuk mendorong pertumbuhan CASA, yaitu meningkatkan jumlah branchless banking dari 112.000 menjadi 157.000 Agen46. Penambahan jumlah rekening juga menjadi sumber peningkatan CASA. Pada akhir tahun 2018, jumlah rekening masih sebanyak 43,5 juta rekening, namun pada akhir tahun 2019 bertambah menjadi 46,6 juta rekening.

Agen46 merupakan kepanjangan tangan BNI dalam memberikan layanan perbankan kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke outlet-outlet BNI. Agen46 merupakan simbol suksesnya Program Laku Pandai yang digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilaksanakan oleh BNI selama ini.

Pencapaian tersebut juga diperkuat oleh CAR yang membaik dari 18,5% menjadi 19,7%, sehingga sangat layak untuk menopang pertumbuhan bisnis BNI ke depan. Inisiatif efisiensi terus berjalan dengan baik dan diharapkan akan tercermin dalam peningkatan Cost to Income Ratio,yang akan dipertahankan di level 43% -44%. Hal ini juga disebabkan oleh keberhasilan BNI dalam menjaga pertumbuhan Biaya Operasional (OPEX) stabil pada level 8,7%.

Aset Tumbuh
Pada akhir 2019, BNI mencatatkan Total Aset sebesar Rp 845,61 triliun atau tumbuh 4,6% yoy dibandingkan akhir 2018 yang mencapai Rp 808,57 triliun. Kontribusi kelima Anak Usaha terhadap kinerja BNI tumbuh 33,3% secara yoy. Kinerja Anak Usaha berhasil menyumbang 11,6% dari laba yang diperoleh oleh BNI Grup.


(hps/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading