Reksa Dana Saham Rontok, Investasi Ini Berpotensi Positif

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
15 December 2019 17:07
Reksa dana tengah amblas, pilihan investasi apa yang tepat?

Jakarta, CNBC Indonesia - Belakangan investasi bertipe portofolio yakni reksa dana (RD) banyak diperbincangkan karena beberapa produk yang dikeluarkan Manajer Investasi (MI) berbasis pada saham diketahui kinerjanya amblas hingga 50% bahkan lebih.

Berdasarkan data Infovesta Utama, ada 32 reksa dana saham yang tercatat terkoreksi di atas 50%. Beberapa nama tersebut di antaranya Oso Flores Equity Fund dengan koreksi 51,31%, Narada Saham Indonesia II terkoreksi 51,95%, Maybank Dana Ekuitas Syariah Saham terkoreksi 54,72%. Bahkan ada juga produk reksa dana saham yang amblas 79,55%, yaitu Millenium MCM Equity Sektoral.

Bulan November pada tahun ini sepertinya bukan bulannya reksa dana khususnya yang berkaitan dengan saham. Data Infovesta Utama mencatat kinerja reksa dana saham ambles 7,23% pada bulan November 2019, performa reksa dana campuran pada periode juga ikut minus 3,22%.

Kendati demikian reksa dana berbasis surat utang atau pendapatan tetap tumbuh cukup baik. Data PT Infovesta Utama menunjukkan kinerja RD pendapatan tetap yang berbasis obligasi tersebut membukukan kinerja positif sepanjang November, yaitu sebesar 0,53%. Sejak awal tahun hingga November, RD pendapatan tetap membukukan return 10,31%.

RD pasar uang yang berbasis instrumen pasar uang seperti deposito berjangka dan tabungan bank atau surat utang berumur di bawah 1 tahun juga tumbuh positif. pada bulan ke-11, RD tersebut 0,47% dengan acuan Infovesta Money Market Fund 90.

Saham, Obligasi Pemerintah, dan Emas berpotensi Positif Bulan Ini

Perdagangan saham di bursa telah memasuki hari ke-15 pada bulan Desember, bulan yang kental akan fenomena window dressing. Sejauh ini gejala gejala mengarah ke arah tersebut masih terlihat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga pekan kedua bulan Desember tumbuh positif 3,08% pada level 6.197.

Wajar Jika IHSG mengalami penguatan awal bulan ini, mengingat selama bulan November mengalami koreksi cukup dalam, sebanyak 216 poin atau sebesar 3,48%. Ini membuat valuasi harga-harga saham unggulan di bursa menjadi kian murah sehingga menggiurkan untuk target investasi, maupun target window dressing.

Pada obligasi pemerintah juga berpotensi masih akan terjadi penurunan imbal hasil (yield) khususnya seri benchmark bertenor 10 tahun akibat kondisi global yang membaik. Sentimen positif tersebut utamanya datang dari hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang kembali membaik.

Kedua belah pihak saling berkomentar positif terkait perjanjian dagang fase pertama yang digadang-gadang akan segera ditandatangani. Trump dalam cuitannya pada hari Rabu (13/12/2019) malam mengatakan bahwa pihaknya telah membuat kesepakatan besar seiring dengan tercapai perjanjian dagang fase pertama dengan China.

Presiden As tersebut melanjutkan dengan mengatakan bahwa tarif impor 25% yang sudah berlaku akan tetap diberlakukan, akan tetapi tarif penalti yang dijadwalkan berlaku pada 15 Desember tidak akan diberlakukan karena kesepakatan sudah terjadi.  

Sumber: Twitter.com

Hal ini berpotensi membuat investor global berani memburu aset-aset berisiko termasuk Obligasi Pemerintah di negara berkembang sehingga membuat harganya naik dan yield menjadi turun. Hingga Jumat (13/12/2019) yield seri FR0078 bertenor 10 tahun berada di 7,223%.

Pergerakan harga dan yield obligasi di pasar sekunder saling bertolak belakang, ketika harga naik maka akan menekan angka yield, begitupun sebaliknya. Namun, yield lah yang menjadi acuan hasil investasi karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Terakhir adalah instrumen emas yang juga berpotensi positif, bukan perang dagang penyebabnya yang membuat harga logam kuning ini akan menguat, akan tetapi kondisi perpolitikan AS yang tak menentu akibat proses pemakzulan presiden Trump yang membuat Dolar AS melemah.

Komite DPR AS yang dikontrol Partai Demokrat telah menyetujui tuduhan penyalahgunaan kekuasaan Presiden Donald Trump pada hari Jumat, membuat pihak kongres hampir yakin bahwa Trump akan menjadi presiden Amerika ketiga dalam sejarah yang akan dilengserkan.

Akibatnya, dolar AS jatuh terhadap sekeranjang mata uang kuat dunia lainnya. Kini Dolar Index atau indeks yang mengukur keperkasaan dolar terhadap enam mata uang kuat dunia lainnya berada di level 97,17, turun 0,23% pada hari Jumat (13/12).

Ketika dolar AS bergerak turun maka harga emas akan naik karena secara internasional harga emas diukur menggunakan dolar AS atau yang dikenal sebagai green back.



[Gambas:Video CNBC]


TIM RISET CNBC INDONESIA 


(yam/yam)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading