AS-China Adem, Pekan Ini Rupiah Terbaik Ketiga di Asia

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
07 December 2019 11:21
Apresiasi rupiah yang sebesar 0,46% tersebut merupakan yang terbaik ketiga jika dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan Asia.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini terbilang pekan yang menggembirakan bagi pelaku pasar saham keuangan tanah air.

Di sepanjang pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selaku indeks saham acuan di Indonesia menguat hingga 2,91%. menjadikannya indeks saham dengan kinerja terbaik di kawasan regional.

Sementara itu, rupiah menguat 0,46% melawan dolar AS di pasar spot, dari level Rp 14.100/dolar AS ke level Rp 14.035/dolar AS. Apresiasi rupiah yang sebesar 0,46% tersebut merupakan yang terbaik ketiga jika dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan Asia.




Pada pekan ini, dolar AS memang sedang berada dalam posisi yang lemah, ditunjukkan oleh indeks dolar AS yang melemah hingga 0,58%.

Perkembangan yang positif terkait negosiasi dagang AS-China menjadi faktor yang membuat dolar AS selaku safe haven ditinggalkan pelaku pasar. Sebelumnya, pelaku pasar sempat begitu khawatir bahwa kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China tak akan bisa diteken dalam waktu dekat. Hal ini terjadi seiring dengan dukungan yang diberikan oleh AS terhadap demonstrasi yang terjadi di Hong Kong.

Pada pekan lalu, Trump resmi menandatangani dua RUU terkait demonstrasi di Hong Kong yang pada intinya memberikan dukungan bagi para demonstran di sana.

RUU pertama akan memberikan mandat bagi Kementerian Luar Negeri AS untuk melakukan penilaian terkait dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Hong Kong dalam mengatur wilayahnya sendiri. Jika China terlalu banyak mengintervensi Hong Kong sehingga membuat kekuasaan untuk mengatur wilayahnya sendiri menjadi lemah, status spesial yang kini diberikan oleh AS terhadap Hong Kong di bidang perdagangan bisa dicabut.

Sebagai informasi, status spesial yang dimaksud membebaskan Hong Kong dari bea masuk yang dibebankan oleh AS terhadap produk-produk impor asal China. RUU pertama tersebut juga membuka kemungkinan dikenakannya sanksi terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Hong Kong.

Sementara itu, RUU kedua akan melarang penjualan dari perlengkapan yang selama ini digunakan pihak kepolisian Hong Kong dalam menghadapi demonstran, gas air mata dan peluru karet misalnya.

China pun pada akhirnya geram dengan tindakan AS tersebut. China resmi menjatuhkan sanksi ke AS dengan membatalkan kunjungan kapal perang AS dan memberi sanksi kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) asal negeri Paman Sam.

"Sebagai respons dari kelakuan yang tidak berdasar dari AS, pemerintah China telah memutuskan tidak memberi izin pada kapal perang AS untuk berlabuh di Hong Kong," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hau Chunying, dikutip dari AFP.

Bahkan, Global Times selaku media yang dimiliki oleh Partai Komunis China memberitakan bahwa Beijing akan segera mempublikasikan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan asal AS, seperti dilansir dari Bloomberg. Global Times melaporkan bahwa pembahasan terkait dengan kebijakan tersebut dipercepat guna merespons dukungan yang diberikan oleh AS terhadap demonstrasi di Hong Kong.

Namun kemudian, sepanjang pekan lalu hadir juga berbagai perkembangan positif yang membuat pelaku pasar kembali optimistis bahwa kesepakatan dagang tahap satu AS-China tetap bisa segera bisa diteken.

Pemberitaan dari Bloomberg menyebutkan bahwa AS dan China kini telah mendekati penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu. Pemberitaan dari Bloomberg tersebut mengutip sumber-sumber yang mengetahui jalannya negosiasi dagang AS-China.

Sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa AS dan China telah semakin dekat untuk menyepakati nilai barang yang akan dibebaskan dari pengenaan bea masuk tambahan.

Seperti yang dketahui, penghapusan bea masuk tambahan merupakan syarat dari China jika AS ingin meneken kesepakatan dagang tahap satu.

Sejauh ini AS telah mengenakan bea masuk tambahan bagi senilai lebih dari US$ 500 miliar produk impor asal China, sementara Beijing membalas dengan mengenakan bea masuk tambahan bagi produk impor asal AS senilai kurang lebih US$ 110 miliar.

Hal tersebut kemudian seakan dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump. Presiden AS ke-45 tersebut mengatakan bahwa sesuatu bisa terjadi terkait dengan bea masuk tambahan yang dibebankan Washington terhadap produk impor asal China.

Di sisi lain, China juga melunak terhadap AS. Kementerian Keuangan China mengumumkan bahwa Beijing akan menghapuskan bea masuk bagi sebagian kedelai dan daging babi yang diimpor dari AS, seperti dikutip dari CNBC International.

Sebelumnya pada Juli 2018, China membebankan bea masuk sebesar 25% terhadap kedelai dan daging babi asal AS sebagai balasan dari langkah AS yang membebankan bea masuk tambahan terhadap produk-produk asal Negeri Panda. Kala itu, AS membebankan bea masuk tambahan dengan dasar bahwa China telah mencuri dan memaksa perusahaan-perusahaan asal AS untuk mentransfer kekayaan intelektual yang dimilikinya ke perusahaan-perusahaan asal China.

Selain karena perkembangan yang positif terkait negosiasi dagang AS-China, rilis data ekonomi AS yang mengecewakan ikut memantik aksi jual atas dolar AS (sehingga rupiah bisa menguat).

Pada pertengahan minggu ini, Non-Manufacturing PMI AS periode November 2019 diumumkan oleh Institute for Supply Management (ISM) di level 53,9, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 54,5, seperti dilansir dari Forex Factory.


Sementara itu, penciptaan lapangan kerja di luar sektor pertanian periode November 2019 diumumkan oleh Automatic Data Processing (ADP) sebanyak 67.000, jauh di bawah ekspektasi yang sebanyak 137.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

Lemahnya data ekonomi AS lantas membangkitkan ekspektasi bahwa The Federal Reserve selaku bank sentral AS akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada pertemuannya bulan ini. Praktis, dolar AS menjadi loyo.

TIM RISET CNBC INDONESIA



(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading