Trump Pesimistis Soal Damai Dagang, Pasar SUN Terbenam Lagi

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
03 December 2019 19:59
Trump Pesimistis Soal Damai Dagang, Pasar SUN Terbenam Lagi Foto: Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi lagi hari ini di tengah semakin runyamnya negosiasi dagang Amerika Serikat (AS)-China, setelah Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa damai dagang dengan China kemungkinan baru bisa tercapai setelah pemilu 2020.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain. Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 yang bertenor 10 tahun dengan kenaikan yield 3,5 basis poin (bps) menjadi 7,17%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 3 Dec'19

Seri

Jatuh tempo

Yield 2 Dec'19 (%)

Yield 3 Dec'19 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar IBPA 3 Dec'19 (%)

FR0077

5 tahun

6.62

6.584

-3.60

6.5701

FR0078

10 tahun

7.141

7.176

3.50

7.1534

FR0068

15 tahun

7.591

7.606

1.50

7.564

FR0079

20 tahun

7.72

7.739

1.90

7.7423

Sumber: Refinitiv


Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tidak tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat tipis dan cenderung flat. Indeks tersebut berada pada 267,2 dari posisi kemarin.

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 538 bps, melebar dari posisi kemarin 530 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun 4,5 bps hingga 1,79% dari posisi kemarin 1,83%.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.068,03 triliun SBN, atau 38,6% dari total beredar Rp 2.767 triliun berdasarkan data per 2 Desember.

Angka kepemilikannya masih positif Rp 174,78 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat masuk ke pasar SUN senilai Rp 230 miliar.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, penguatan harga terjadi secara luas sehingga yield mayoritas obligasi negara turun. Hal tersebut mencerminkan investor global sedang memburu obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen negatif terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 2 Dec'19 (%)

Yield 3 Dec'19 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil

6.895

6.91

1.50

China

3.216

3.243

2.70

Jerman

-0.278

-0.298

-2.00

Prancis

0.032

0.007

-2.50

Inggris

0.742

0.741

-0.10

India

6.483

6.464

-1.90

Jepang

-0.021

-0.018

0.30

Malaysia

3.441

3.447

0.60

Filipina

4.685

4.679

-0.60

Rusia

6.43

6.42

-1.00

Singapura

1.769

1.77

0.10

Thailand

1.655

1.62

-3.50

Amerika Serikat

1.836

1.793

-4.30

Afrika Selatan

8.46

8.475

1.50

Sumber: Refinitiv



TIM RISET CNBC INDONESIA

(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading