Transaksi Saham November Resmi Anjlok 21%, Cuma Rp 7,4 T/Hari

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
29 November 2019 20:21
Transaksi Saham November Resmi Anjlok 21%, Cuma Rp 7,4 T/Hari Foto: Bursa Efek Indonesia (BEI) (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Rerata nilai transaksi bursa saham sebulan ini tercatat hanya Rp 7,4 triliun/hari setelah transaksi ditutup di hari ini, yang bertepatan dengan penghujung pekan sekaligus hari akhir bulan November.

Rerata nilai transaksi itu melorot 21,71% dari rerata transaksi 10 bulan pertama tahun ini Rp 9,46 triliun/hari dan bahkan masih di bawah rerata nilai transaksi tahun lalu Rp 8,5 triliun/hari dan rerata transaksi 2017 Rp 7,6 triliun/hari.




Nilai transaksi harian Rp 7,4 triliun/hari tersebut didapatkan dari nilai total transaksi Rp 155,57 triliun dalam 21 hari bursa.

Data transaksi bursa menunjukkan hari ini (29/11/19) pasar saham hanya terbentuk dari transaksi senilai Rp 7,22 triliun, kembali di bawah nilai psikologis Rp 8 triliun/hari. Tercatat dalam 15 hari transaksi sejak 11 November, nilai transaksi harian pasar saham hanya sekali menembus Rp 8 triliun di mana selebihnya masih mencatatkan nilai transaksi yang lebih mini dari nilai tersebut.

Sekali-kalinya nilai transaksi di atas Rp 8 triliun dalam 15 hari terakhir tersebut terjadi pada 26 November, ketika nilai transaksi meroket hingga Rp 13,33 triliun dan seakan menunjukkan baru kali itu pelaku pasar meledak-ledak dalam bertransaksi.

Namun, nilai transaksi jumbo itu justru diikuti koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga justru mencerminkan masifnya aksi jual saham pada hari tersebut, terutama oleh investor asing yang mencatatkan nilai jual bersih di pasar reguler Rp 1,55 triliun.

Momentum tersebut seakan menandai adanya aksi penyesuaian (rebalancing) portofolio investor asing menjelang berlakunya daftar isi baru dari indeks-indeks saham yang dibuat oleh MSCI. Gencarnya investor asing 'buang barang' bukan hanya rebalancing pada indeks MSCI Indonesia, tetapi juga pada indeks MSCI Emerging Market.

Hal tersebut terkait dengan mulai ditambahkannya saham-saham kelas A asal China ke indeks-indeks MSCI Emerging Market yang sudah memasuki tahap ketiga. Masuknya saham-saham dari Negeri Tirai Bambu tersebut tentu dapat menurunkan bobot dari saham negara berkembang lain, termasuk Indonesia.

"MSCI akan mengimplementasikan tahap ketiga inklusi saham kelas A asal China ke indeks-indeks MSCI Emerging Markets. Saham kelas A China akan berbobot 12,1% dan 4,1% masing-masing dalam indeks MSCI China dan indeks-indeks MSCI Emerging Markets," tulis pengumuman MSCI pada 7 November. Eksekusi dari perubahan itu dilakukan pada 27 November kemarin.

Tahun lalu, Deutsche Bank pernah mengeluarkan estimasi bahwa jika inklusi saham-saham kelas A asal China ke dalam indeks-indeks MSCI Emerging Market tuntas, maka akan membuat porsi saham-saham asal Negeri Tirai Bambu bertambah menjadi 42%, sedangkan porsi Indonesia akan berkurang menjadi 1,76% dari sebelumnya 2,15%.

Aksi jual yang juga diprediksi riset yang sama diprediksi dapat memicu keluarnya dana asing dari pasar domestik hingga mencapai Rp 16,5 triliun (saat itu setara US$ 1,2 miliar).

Selain itu, ciutnya nilai transaksi juga disebabkan kehati-hatian pelaku pasar menyikapi dugaan kebijakan penertiban pasar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap transaksi saham lapis tiga, atau biasa disebut saham gorengan.

Alhasil, tekanan jual dari investor asing tersebut turut berbuah pada koreksi yang terjadi pada IHSG sepanjang November yaitu 3,48% menjadi 6.011 dari posisi 6.228 di akhir bulan lalu. IHSG bahkan sempat tertahan di bawah level psikologis 6.000 kemarin (28/11/19), yang untungnya hanya terjadi sehari.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading