Round Up Sepekan

Kabar Baik dari China, Jadi Kabar Buruk Bagi Emas

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
10 November 2019 12:34
Kabar Baik dari China, Jadi Kabar Buruk Bagi Emas Foto: Ist
Jakarta, CNBC Indonesia - Para analis mempoyeksikan aksi jual emas akan segera tiba. Kabar dari AS yang berencana menghapus bea masuk bagi China dan menguatnya potensi damai dagang jadi katalis negatif bagi emas sebagai instrumen safe haven.

Seperti dituliskan sebelumnya, harga emas memang anjlok cukup tajam pada perdagagan Kamis (8/11/19) akibat adanya kabar dari China terkait kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat (AS). Dalam satu hari perdagangan itu, emas tercatat anjlok 1,5% ke US$ 1.467,82/troy ons dan menyentuh level terlemah sejak 1 Oktober lalu, berdasarkan data Refinitiv.

Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng, seperti diwartakan CNBC International mengatakan baik AS maupun China setuju untuk mambatalkan rencana pengenaan berbagai bea masuk. Perundingan yang konstruktif dalam dua pekan terakhir membuat kedua negara sudah dekat dengan kesepakatan damai dagang fase I.

Akibat berita tersebut, pelaku pasar menjadi optimis kesepakatan dagang AS-China akan segera diteken. Dampaknya, selera terhadap risiko (risk appetite) meningkat, dan aset-aset aman (safe haven) seperti emas menjadi ditinggalkan. Harga emas pun semakin menjauhi level psikologis US$ 1.500/troy ons.


Perkembangan terbaru, Reuters pada Jumat (8/11/2019) memberitakan, penghapusan bea masuk menimbulkan pertentangan di internal pemerintahan AS. Beberapa sumber mengungkapkan terjadi penolakan terhadap rencana tersebut. Kondisi ini menyebabkan pelaku pasar kembali gelisah.

"Tidak ada kesepakatan yang spesifik soal pencabutan bea masuk. Pihak AS masih bersikap ambigu, sementara China memang sangat berharap penghapusan bea masuk bisa terwujud," tegas Michael Pillsbury, penasihat Presiden AS Donald Trump yang berada di luar pemerintahan.

Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro juga menegaskan bahwa belum ada kesepakatan soal penghapusan bea masuk. Dia menilai China melakukan klaim sepihak.

"Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai pencabutan bea masuk sebagai syarat ditandatanganinya perjanjian damai dagang fase I. Mereka (China) mencoba bernegosiasi di ruang publik," tegas Navarro dalam wawancara bersama Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

AS yang membantah kesepakatan penghapusan bea masuk tersebut seharusnya bisa membuat harga emas menguat. Hingga perdagangan akhir pekan harga emas dunia berada di level harga US$ 1.459,60 atau turun 3,43% dalam sepekan, berdasarkan data investing.com

Bisa jadi hal tersebut merupakan tanda emas sudah kehabisan "bensin" untuk kembali menguat, sekaligus menjadi sinyal kemungkinan akan adanya penurunan emas lebih dalam.

Analis dari TD Securities bahkan memprediksi aksi jual emas akan segera datang.

"Trader mengamati US$ 1.480/oz, di mana emas bertahan di atas level tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Penembusan di bawah level tersebut menyiratkan kenaikan harga emas belakangan ini sudah mendekati akhir," tulisnya, melansir kitco.com. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading