Nego Dagang Bikin Bingung, Wall Street Diprediksi Variatif

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
08 November 2019 21:23
Nego Dagang Bikin Bingung, Wall Street Diprediksi Variatif
Jakarta, CNBC Indonesia - Wall Street diimplikasikan bergerak variatif. Pada pukul 20:30 WIB, kontrak futures indeks Dow Jones mengimplikasikan kenaikan sebesar 38 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite diimplikasikan turun masing-masing sebesar 0,2 dan 8,7 poin.

Perkembangan terkait perang dagang AS-China yang membingungkan menjadi faktor yang membuat pelaku pasar saham AS bingung dalam menentukan keputusan.

Sebelumnya, China mengabarkan bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan AS untuk menghapuskan bea masuk tambahan yang sudah dikenakan oleh masing-masing negara selama perang dagang berlangsung, seperti dilansir dari CNBC International.


Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengabarkan bahwa kedua belah pihak telah setuju untuk secara bersama-sama menghapuskan bea masuk yang menyasar produk impor dari masing-masing negara senilai ratusan miliar tersebut. Penghapusan bea masuk disebut China akan dilakukan secara bertahap.

Dirinya kemudian menambahkan bahwa kedua belah pihak kini telah semakin dekat untuk menandatangani kesepakatan dagang tahap satu, menyusul negosiasi yang konstruktif dalam dua pekan terakhir.

Namun, pihak AS kemudian membantah klaim dari China tersebut. Penasehat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro menegaskan bahwa pihak AS tak pernah menyepakati hal tersebut dengan China. Navarro pun menilai China tengah melakukan upaya propaganda.

"Tidak ada kesepakatan untuk saat ini yang menghapuskan semua tarif yang diberlakukan sebagai kondisi untuk kesepakatan dagang fase pertama," tegas Navarro dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (8/11/2019).

"Mereka hanya bernegosiasi di ranah publik dan tengah mencoba mendorong (kesepakatan) ke satu arah." tambah Navarro.

Dengan situasi yang tak pasti seperti ini, ada potensi yang besar bahwa perang dagang kedua negara justru akan tereskalasi.

Sejauh ini, bea masuk tambahan yang dikenakan oleh masing-masing negara terbukti sudah menghantam perekonomiannya masing-masing. Belum lama ini, pembacaan awal untuk angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal III-2019 diumumkan di level 1,9% (QoQ annualized), jauh melambat dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu (kuartal III-2018) yang mencapai 3,4%.

Beralih ke China, belum lama ini Beijing mengumumkan bahwa perekonomiannya hanya tumbuh di level 6% secara tahunan pada kuartal III-2019, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 6,1%, seperti dilansir dari Trading Economics. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2019 juga lebih rendah dibandingkan capaian pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2%.

Untuk diketahui, laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2% merupakan laju pertumbuhan ekonomi terlemah dalam setidaknya 27 tahun, seperti dilansir dari CNBC International.

Jika perang dagang tereskalasi dan balas-membalas bea masuk antara AS dan China semakin parah, perputaran roda perekonomian keduanya, berikut dengan roda perekonomian dunia, akan semakin lambat.

Pada pukul 22:00 WIB, pembacaan awal atas angka indeks keyakinan konsumen AS periode November 2019 akan dirilis oleh University of Michigan.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading