Data Ekonomi China Buruk, Wall Street Dibuka Memerah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
18 October 2019 20:50
Data Ekonomi China Buruk, Wall Street Dibuka Memerah

Jakarta, CNBC Indonsia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (18/10/2019) di pekan pertama pengumuman rilis keuangan emiten AS, yang dibuyarkan oleh buruknya data ekonomi China.

Indeks Dow Jones Industrial Average (Dow Jones) melemah 46 poin (0,2%) pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB), dan 20 menit kemudian menjadi hanya 38,1 poin (0,14%) ke 26.987,82. Indeks Nasdaq tertekan 9,4 poin (-0,1%) ke 8.147,41 sementara indeks S&P 500 turun 0,65 poin (-0,02%) ke 2.996,9.

Data FactSet menunjukkan 81% emiten konstituen S&P 500 yang telah merilis neraca keuangannya per kuartal III-2019 membukukan kinerja di atas ekspektasi analis. Namun, rilis data China yang lemah memperberat pergerakan pasar.

Beberapa emiten yang membukukan kinerja lebih baik dari perkiraan pasar pekan ini di antaranya adalah Bank of America, Netflix, J.P. Morgan Chase dan Morgan Stanley. Coca-Cola juga membukukan kinerja fantastis sehingga harga sahamnya hari ini melesat 1%.

Optimisme seputar keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) memberikan daya penguatan bagi saham-saham global. Inggris dan Uni Eropa telah menyepakati proposal Brexit yang diajukan Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson. Kini, Boris tinggal mengajukan proposal yang sudah disepakati tersebut ke parlemen Inggris pada Sabtu. 

Namun, kecemasan seputar kondisi ekonomi global masih menyelimuti pasar global, menyusul rilis pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut yang hanya naik 6% pada kuartal III-2019, lebih kecil dari ekspektasi dan menjadi yang terburuk dalam 27 tahun.

Data negatif tersebut membuat pernyataan Larry Kudlow, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS menjadi sia-sia. Sebelumnya pada Kamis, menantu Trump tersebut mengatakan kepada CNBC International dalam program "Squawk Box" bahwa "ada banyak momentum" untuk mencapai kesepakatan dagang dengan China.

"Dalam jangka sangat pendek, indeks S&P 500 bisa menguat ke level resistan 3.000 tapi kemungkinan terjadi tak lebih karena dipicu reli kenaikan palsu," ujar Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge dalam laporan risetnya, sebagaimana dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA





(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading