Data Ritel AS Lemah, Wall Street Dibuka Tertekan

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
16 October 2019 21:22
Data Ritel AS Lemah, Wall Street Dibuka Tertekan

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (16/10/2019) menyusul lemahnya data penjualan ritel, di tengah bayang-bayang kekhawatiran perang dagang.

Indeks Dow Jones Industrial Average (Dow Jones) anjlok 45 poin (0,2%) pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB), dan memburuk menjadi 58,75 poin (-0,22%) 30 menit kemudian ke 26.966,05. Indeks Nasdaq melemah 40,2 poin (-0,54%) ke 8.105,23 sementara indeks S&P 500 tertekan 9,59 poin (-0,32%) ke 2.986,11.

Penjualan ritel secara mengejutkan turun 0,3% pada September, menandai koreksi pertama mereka dalam tujuh bulan terakhir. Pemangkasan belanja kendaraan bermotor dan belanja online ikut menjadi penekan penjualan ritel.

Lemahnya data ini semakin menambah kekhawatiran seputar potensi resesiĀ di tengah sinyal perlambatan ekonomi global, sementara sektor manufaktur AS telah terkontraksi.

Di tengah kekhawatiran tersebut, prospek damai dagang AS can China masih belumĀ  terlihat jelas. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pertanyaan kini bermunculan seputar seberapa banyak China akan membeli produk pertanian AS dan berapa lama.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa China ingin AS mencabut tarif atas produk China yang telah berlaku sebelumnya, sebelum meneken kesepakatan soal pembelian produk pertanian AS.

"Jika presiden mengenakan putaran tarif selanjutnya, hal ini akan meningkatkan peluang resesi, dan jika kita ada resesi maka bursa saham akan terpangkas setidaknya sebesar 25%," tutur Leon Cooperman, pendiri Omega Advisors dalam acara "Squawk Box" CNBC International.

Tidak hanya itu, China juga mengancam aksi balasan merespons dukungan AS terhadap pendemo Hong Kong. DPR AS pada Selasa meloloskan peraturan yang akan mengakhiri status khusus perdagangan Hong Kong dengan AS kecuali Departemen Dalam Negeri AS menentukan bahwa tidak ada pelanggaran hak azasi di sana.

Dua sentimen negatif tersebut membuat sentimen positif seputar kinerja emiten AS menjadi terlupakan. Padahal, Bank of America melaporkan laba bersih dan pendapatan yang melampaui ekspektasi pasar. Demikian juga dengan United Airlines dan Bank of New York Mellon.

Sejauh ini, data FactSet menunjukkan 83% emiten dalam S&P 500 companies yang telah merilis neraca keuangannya per kuartal III-2019 membukukan kinerja di atas ekspektasi analis.

TIM RISET CNBC INDONESIA





(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading