Diserbu Tekstil China, Ada Emiten Tekstil PHK Karyawan

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
16 October 2019 13:17
Satu kapal umumnya mengangkut 1000 lembar baju dan celana.
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) tengah menghadapi berbagai rintangan yang membuat pangsa pasar perusahaan tergerus.

Dalam laporan yang dirilis oleh Standard & Poors (S&P) tanggal 16 Juli 2019, tertulis bahwa perang dagang merupakan salah satu faktor penyebab kesulitan yang dialami oleh industri tekstil Indonesia karena mengakibatkan penurunan permintaan ekspor

Kemudian, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyampaikan kebijakan tarif pengamanan perdagangan dari banjirnya produk impor atau safeguard yang masih lemah juga menjadi rintangan pelaku industri TPT.


Belum lama ini Direktorat Bea Cukai Kementerian Keuangan melakukan 311 penindakan terhadap kapal-kapal pengangkut pakaian bekas impor sepanjang Januari-September.

Pakaian bekas ini diangkut masuk ke pelabuhan dengan kapal kayu kecil 100-200 GT. Satu kapal umumnya mengangkut 1000 lembar baju dan celana.

Sepanjang Januari-September 2019, Bea Cukai mengamankan ball press (karung berisi pakaian bekas) dengan nilai total mencapai Rp 42,1 miliar. Pada 2018, mereka melakukan 349 kali penindakan dengan nilai mencapai Rp 48,96 miliar.

Dengan kondisi demikian, wajar saja jika sepanjang paruh pertama tahun ini sebanyak 50% dari 18 emiten tekstil dan garmen yang terdaftar di bursa mencatatkan penurunan pendapatan. Bahkan terdapat terdapat dua emiten yang berbalik rugi, yakni PT Argo Pantes Tbk (ARGO) dan PT Asia Pacific Tbk (POLY).

Sebelumnya, Wakil Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Rizal Tanzil menyebutkan rintangan yang dihadapi industri TPT menekan keuangan perusahaan, bahkan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kondisi tekstil kita sedang masa sulit, impor banyak, produksi turun, tak bisa jual barang, keuangan sulit, dampaknya karyawan dirumahkan, bahkan ada yang PHK. Kalau tak ada penanganan, semua hanya menunggu waktu, " katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (29/8/2019).

Tim Riset CNBC Indonesia mencoba menelusuri perubahan jumlah karyawan dari sekitar 16 perusahaan tekstil publik. Melansir laporan keuangan semester I-2019, setidaknya terdapat 7 perusahaan yang mencatatkan penurunan jumlah karyawan tetap dalam 6 bulan pertama tahun ini.



Jumlah karyawan PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) turun hingga 185 orang, dari 1.364 karyawan di Desember 2018 menjadi 1.179 karyawan di akhir Juni 2019.

Perusahaan yang juga mencatatkan penurunan jumlah karyawan lebih dari 100 orang, termasuk PT Argo Pantes Tbk (ARGO) sebanyak 150 orang dan PT Ever Shine Tbk (ESTI) sebanyak 145 orang.

Lebih lanjut, setelah ditelaah lebih rinci, ketujuh emiten yang membukukan penurunan karyawan, 6 di antaranya mencatatkan pertumbuhan pendapatan negatif.

Kondisi ini berbeda dengan emiten yang mencatatkan penambahan karyawan, di mana 7 dari 8 emiten membukukan kenaikan pendapatan pada semester I-2019.



TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Perang Dagang, Sritex Bakal Dapat Klien Besar dari AS Rp 14 T


(dwa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading