Waspadai Friksi AS-China, Bursa Asia Ditutup Bervariatif

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
15 October 2019 18:14
Waspadai Friksi AS-China, Bursa Asia Ditutup Bervariatif
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia ditutup bervariatif cenderung melemah pada perdagangan hari ini (15/10/2019) seiring dengan meningkatnya kewaspadaan investor akan perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks Shanghai anjlok 0,56%, indeks Hang Seng melemah 0,07% dan indeks Straits Times terkoreksi 0,27%. Sementara itu, indeks Nikkei tercatat melesat hingga 1,87% dan indeks Kospi menguat terbatas 0,04%.

"Kami memulai minggu baru dengan suasana hati yang lebih hati-hati seiring dengan atmosfer perdagangan AS-China sekarang yang mulai menunjukkan tanda-tanda ketegangan (friksi)," ujar Rodrigo Catril seorang ahli strategi valas senior di Australia National Bank, dikutip dari CNBC International.


Pernyataan yang disampaikan oleh Catril mengacu pada laporan Bloomberg yang menyebutkan pihak Negeri Tiongkok masih menginginkan adanya putaran pembicaraan lanjutan, sebelum Presiden Xi Jinping menandatangani fase pertama kesepakatan. Lebih lanjut, Beijing juga ingin AS membatalkan rencana kenaikan tarif pada 15 Desember mendatang.

Sementara itu, kecemasan semakin meningkat tatkala Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan pihaknya tidak akan ragu menaikkan tarif hingga 15% pada barang China di akhir tahun (15 Desember) jika tidak ada kesepakatan yang ditandatangani.

"Saya memiliki ekspektasi bahwa jika tidak ada kesepakatan, maka tarif akan berlaku, tapi saya berharap kita akan mencapai kesepakatan," katanya saat diwawancarai CNBC International di acara Squax Box.


Meski demikian, ia mengatakan pihaknya dan China akan segera melakukan pembicaraan lanjutan minggu ini. Pembicaraan akan dilakukan via telepon.

Sebagai informasi, hasil perundingan pekan lalu pemerintahan Trump memang tidak memberikan putusan yang sama pada barang-barang yang akan kena tarif tambahan di Desember. Sebelumnya pada 15 Desember nanti, produk seperti ponsel, laptop, mainan dan pakaian asal China akan kena tarif tambahan hingga 15%.

Kesepakatan fase pertama hanya menyetujui penundaan pemberlakuan kenaikan tarif bea masuk produk China senilai US$ 250 miliar dari 25% menjadi 30%, yang seyogianya efektif per 15 Oktober.

Sejatinya tak lama setelah Negeri Paman Sam mengumumkan bahwa Washington dan Beijing mencapai kesepakatan fase pertama, banyak analis skeptis bahwa perjanjian kali ini benar-benar akan berbuah manis. Pasalnya, sebelumnya setelah diinfokan rujuk, kedua belah pihak kembali berseteru.

"Pertama, menyusun (teks) perjanjian bisa menjadi proses yang rumit. Pembatalan mendadak negosiasi pada April-Mei adalah salah satu contoh bahwa resiko itu ada," tulis catatan riset ekonomi ANZ, dilansir CNBC International.

Investor kembali diliputi kekhawatiran bahwa eskalasi perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia masih sangat mungkin terjadi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(dwa/dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading