Analisis Teknikal

Trading Forex: EUR/USD Tembus Pola Channel Down, Potensi Naik

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 October 2019 16:10
Trading Forex: EUR/USD Tembus Pola Channel Down, Potensi Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasangan EUR/USD terkoreksi turun pada perdagangan hari ini setelah mencatat penguatan tiga hari beruntun. Meski demikian, euro memiliki peluang melanjutkan penguatan setelah menembus pola Channel Down pada perdagangan akhir pekan lalu.

Pada Senin (14/10/2019) pukul 15:45 WIB, EUR/USD berada di level 1.1030. Berikut adalah merupakan grafik harian EUR/USD, garis hijau sejajar menurun merupakan pola Channel Down yang berhasil ditembus. 

Tembus Pola Channel Down, EUR/USD Buka Peluang Lanjut MenguatGrafik: EUR/USD Harian
Sumber: MetaTrader 5
  
Garis merah merupakan Fibonacci Retracement yang ditarik dari 24 September 2018 (titik tertinggi) sampai 1 Oktober 2019 (titik terendah). Berdasarkan Fibonacci Retracement, level 23,6% berada di kisaran 1,11, yang menjadi target penguatan EUR/USD saat ini. Konfirmasi penembusan Fibo 23,6% tersebut akan membuka peluang penguatan euro lebih lanjut.


Tembus Pola Channel Down, EUR/USD Buka Peluang Lanjut MenguatGrafik: EUR/USD 1 Jam
Sumber: MetaTrader 5

Sementara jika dilihat dari grafik 1 Jam, indikator stochastic belum masuk ke wilayah jenuh jual (oversold) atau jenuh beli (overbought). Support (tahanan bawah) berada di level 1,099, meski EUR/USD sedang terkoreksi, tapi selama bertahan di atas support, peluang penguatan masih terbuka. Sementara jika support ditembus, EUR/USD bepotensi melemah ke 1.0945. 

Secara fundamental, euro mendapat momentum penguatan setelah rilis notula rapat kebijakan moneter European Central Bank (ECB) pekan lalu. Dalam notula tersebut terungkap bahwa kebijakan ECB untuk kembali mengaktifkan program pembelian aset atau quantitative easing (QE) mendapat tentangan dari banyak anggota dewan.

Reuters melaporkan sepertiga dari anggota pembuat kebijakan, termasuk pimpinan bank sentral negara-negara raksasa yakni Jerman dan Perancis, menentang adanya QE. Selama delapan tahun masa kepemimpinan Presiden Mario Draghi, kebijakan moneter yang diambil kali ini dikatakan menjadi yang paling ditentang.

Dengan adanya pertentangan tersebut, ada kemungkinan panduan kebijakan ECB akan berubah saat Draghi mengakhiri masa jabatannya pada 31 Oktober. Draghi kemungkinan besar akan digantikan oleh mantan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetery FUND/IMF), Christine Lagarde.  


TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading