Internasional

Ekonomi AS: Inflasi Rendah, Pasar Tenaga Kerja Kuat

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
11 October 2019 07:52
Ekonomi AS: Inflasi Rendah, Pasar Tenaga Kerja Kuat
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks harga konsumen (IHK) Amerika Serikat (AS) tidak berubah pada bulan September dan inflasi underlying juga tetap rendah. Hasil ini menguatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada bulan Oktober atau melakukan pemangkasan untuk ketiga kalinya tahun ini di tengah tingginya risiko terhadap ekonomi dari perang dagang.

Namun, pasar tenaga kerja yang kuat dapat memperumit masalah bagi The Fed dalam memutuskan arah kebijakan. Data lain pada hari Kamis (11/10/19) menunjukkan penurunan tak terduga dalam jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran pekan lalu. Yaitu, turun 10.000 menjadi 210.000, disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir pada 5 Oktober.


Angka PHK tetap rendah bahkan ketika perusahaan ragu-ragu untuk merekrut lebih banyak pekerja karena perlambatan ekonomi. Tingkat pengangguran AS mendekati level terendah dalam 50 tahun sebesar 3,5%.


Pertumbuhan ekonomi AS yang sudah terjadi dalam 11 tahun terakhir sedang di bawah ancaman perang dagang AS-China, perlambatan pertumbuhan di luar negeri dan kekacauan Brexit. Perang dagang AS-China juga telah membuat investasi bisnis menjadi rendah. Bahkan telah mendorong sektor manufaktur ke dalam resesi.

Lebih lanjut, memudarnya stimulus dari paket pemotongan pajak senilai US$ 1,5 triliun tahun lalu, juga telah membatasi pertumbuhan.


"Risiko penurunan dari pertumbuhan global yang lebih lambat, perang dagang dan kontraksi di manufaktur AS dapat membawa beban lebih di antara para pejabat Fed," kata Ben Ayers, ekonom senior di Nationwide di Columbus, Ohio. "Peluang penurunan suku bunga pada bulan Oktober bergerak naik dengan data ekonomi domestik berubah lebih lemah dalam beberapa bulan terakhir."

Departemen Tenaga Kerja mengatakan IHK yang flat bulan lalu adalah hasil terlemah sejak Januari dan terjadi karena kenaikan harga makanan dan sewa diimbangi oleh penurunan harga bensin dan mobil bekas dan truk. IHK naik 0,1% pada bulan Agustus. Dalam 12 bulan hingga September, IHK meningkat 1,7% setelah naik dengan margin yang sama pada bulan Agustus.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan IHK naik 0,1% pada bulan September dan naik 1,8% secara tahunan.

Tidak termasuk komponen makanan dan energi yang volatil, IHK naik 0,1% setelah naik 0,3% selama tiga bulan berturut-turut. Sementara IHK inti flat akibat kenaikan moderat biaya perawatan kesehatan, serta penurunan dalam penjualan pakaian, kendaraan bermotor baru dan harga komunikasi. Dalam 12 bulan hingga September, IHK inti meningkat 2,4%, menyamai kenaikan Agustus.

Laporan data pada hari Selasa menunjukkan penurunan harga produsen terbesar dalam delapan bulan pada bulan September.

Di tengah keadaan yang seperti ini, risalah dari pertemuan kebijakan 17-18 September bank sentral AS yang diterbitkan pada hari Rabu menunjukkan bahwa para pejabat masih berselisih dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Risalah menunjukkan beberapa pejabat memilih mempertahankan suku bunga pada pertemuan itu karena mereka merasa sikap kebijakan sudah cukup akomodatif, sementara sebagian memilih pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin.

The Fed memangkas suku bunga seperempat poin bulan lalu setelah melakukan pemangkasan pada bulan Juli, yang merupakan pemangkasan pertama kalinya sejak 2008. Pemangkasan lebih lanjut diperkirakan akan dilakukan pada pertemuan 29-30 Oktober.

Sebelumnya, The Fed memperkirakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE) untuk target inflasi 2%. Indeks harga PCE inti naik 1,8% secara tahunan di bulan Agustus dan telah gagal memenuhi target tahun ini.

Ekonom mengatakan berdasarkan data IHK dan PPI, mereka memperkirakan indeks harga inti PCE bulanan naik 0,1% pada bulan September, sesuai dengan kenaikan Agustus. Itu akan menurunkan kenaikan tahunan inflasi inti menjadi 1,7% dari 1,8% pada Agustus.

Para ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat dan melampaui target Fed pada tahun 2020 setelah AS menaikkan tarifnya pada barang-barang China baru-baru ini. Pengetatan pasar tenaga kerja juga diperkirakan akan mendukung inflasi.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading