Pasar Obligasi Positif Terbantu Asing, Penerbitan SBR Lancar

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
23 September 2019 20:44
Pemerintah menerbitkan obligasi tabungan ritel (saving bond retail/SBR) seri 008 senilai Rp 1,89 triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menerbitkan obligasi tabungan ritel (saving bond retail/SBR) seri 008 senilai Rp 1,89 triliun dengan penambahan jumlah investor milenial yang signifikan.

Dalam pengumumannya hari ini, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu menunjukkan sebanyak 51,96% dari total investor merupakan kelahiran 1980-2000, yang masuk kategori investor milenial. Porsi investor milenial tersebut naik dari penerbitan SBR007 yang terbit pada Juli tahun ini yaitu 50,85%.

Meskipun nilai penerbitan di bawah target indikatif pemerintah Rp 2 triliun, tetapi sebanyak 62,2% dari total 10.219 orang, atau tepatnya 6.356 orang, merupakan investor baru.

Penerbitan tersebut juga terbantu tiga kanal pembayaran baru yang telah ditunjuk oleh Kementerian Keuangan sebagai lembaga persepsi yakni Bukalapak, Tokopedia, dan Finnet sehingga total jumlah lembaga persepsi menjadi 86 lembaga.

SBR008 tersebut memberikan imbal hasil dari kupon sebesar 7,2% per tahun, atau secara bersih akan diterima investor sebesar 6,12% per tahun dengan skema mengambang yang bisa naik tetapi memiliki batas bawah sehingga tidak dapat turun lebih rendah dari kupon pertama yang diberikan.



Pengumuman jumlah penerbitan SBR008 tersebut seiring dengan penguatan pasar surat utang negara (SUN) hari ini, di mana harga obligasi rupiah pemerintah ditutup naik tipis meskipun tidak sebesar pada awal perdagangan tadi pagi.

Kenaikan harga surat utang negara (SUN) itu senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.

Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0068 yang bertenor 15 tahun dengan penurunan yield 1 basis poin (bps) menjadi 7,66%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 23 Sep'19

Seri


Jatuh tempo

Yield 20 Sep'19 (%)

Yield 23 Sep'19 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar IBPA 23 Sep'19 (%)

FR0077

5 tahun

6.622

6.615

-0.70

6.6018

FR0078

10 tahun

7.243

7.246

0.30

7.2329

FR0068

15 tahun

7.676

7.666

-1.00

7.6672

FR0079

20 tahun

7.804

7.813

0.90

7.7827

Sumber: Refinitiv, IBPA

 

Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tidak tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih stagnan. Indeks tersebut tidak bergerak pada 261,73 dari posisi akhir pekan lalu.

Penguatan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 554 bps, melebar dari posisi akhir pekan lalu 549 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun drastis yaitu sebesar 5,1 bps hingga 1,7% dari posisi akhir pekan lalu 1,75%.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.023,87 triliun SBN, atau 38,67% dari total beredar Rp 2.647 triliun berdasarkan data per 19 September.

Nilai kepemilikan SUN oleh investor asing tersebut masih menjadi yang tertinggi sepanjang masa seiring dengan semakin kondusifnya perang dagang.

Angka kepemilikannya masih positif Rp 130,62 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat masuk ke pasar SUN senilai Rp 1,64 triliun dan sejak akhir bulan lalu sudah masuk Rp 4,27 triliun.

Penguatan di pasar surat utang hari ini tidak seperti koreksi yang terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya turun 0,41% dan 0,21%, yang terpapar kondisi tekanan kondisi keamanan ibukota yang dilanda demonstrasi mahasiswa.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, mayoritas menguat sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 20 Sep'19 (%)

Yield 23 Sep'19 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil

7.19

7.09

-10.00

China

3.118

3.112

-0.60

Jerman

-0.52

-0.567

-4.70

Prancis

-0.222

-0.275

-5.30

Inggris

0.628

0.565

-6.30

India

6.634

6.745

11.10

Jepang

-0.214

-0.215

-0.10

Malaysia

3.452

3.471

1.90

Filipina

4.811

4.806

-0.50

Rusia

7

7.01

1.00

Singapura

1.733

1.72

-1.30

Thailand

1.54

1.5

-4.00

Amerika Serikat

1.753

1.702

-5.10

Afrika Selatan

8.21

8.28

7.00

Sumber: Refinitiv

 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading