Analisis

Halo Rupiah, Mau Bobol Level Psikologis 14.000/US$ Hari Ini?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
12 September 2019 12:22
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah melawan dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya menguat pada perdagangan Kamis (12/9/19) setelah dua hari melemah tipis-tipis. Mata Uang Garuda kembali mendapat momentum penguatan dari AS-China hingga kembali mendekati level "keramat" 14.000/US$.

Hubungan AS dengan China yang semakin mesra membuat investor global ceria, harapan akan adanya damai dagang kian membuncah. Efeknya, selera terhadap risiko (risk appetite) kembali meningkat, investasi kembali mengalir ke aset-aset berisiko dan berimbal hasil tinggi, dan rupiah juga mendapat rejeki.

Hubungan AS-China kian mesra setelah Pemerintah Tiongkok Rabu kemarin menghapus pengenaan bea masuk untuk importasi 734 produk AS di antaranya daging sapi, daging babi, kedelai, dan tembaga.


Produk-produk ini adalah bagian dari daftar barang-barang impor dari AS senilai US$ 50 miliar yang kena bea masuk sejak Juli tahun lalu. Namun pembebasan bea masuk ini harus diajukan oleh pengusaha, yang harus membuktikan bahwa mereka memang terkena dampak perang dagang.

"Kami sedang menyiapkan aplikasinya, akan segera kami serahkan. Ini adalah kabar yang sangat baik," kata Shi Lei, seorang manajer di perusahaan importir daging yang berbasis di Beijing, seperti diberitakan Reuters.

Tidak hanya dunia usaha di China, bahkan Presiden AS Donald Trump memuji langkah ini. Menurut Trump, Beijing sudah melakukan langkah besar. "Mereka (China) pernah membuat sejumlah kebijakan yang cukup baik. Saya rasa ini gestur yang baik. Namun yang sekarang adalah langkah besar," kata Trump, seperti diwartakan Reuters.

Selain hubungan AS-China, perhatian investor juga tertuju pada pengumuman kebijakan moneter European Central Bank (ECB) malam ini pukul 18:45 WIB.

Melansir laporan Reuters, para trader melihat adanya probabilitas sebesar 72% bahwa ECB akan memangkas suku bunga sebesar 20 basis poin (bps) Kamis nanti. Beberapa analis juga memprediksi bank sentral pimpinan Mario Draghi ini akan mengaktifkan lagi program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) atau yang dikenal dengan quantitative easing.

Baik pemangkasan suku bunga maupun quantitative easing memberikan dampak positif ke pasar global. Pertumbuhan ekonomi dunia diharapkan terpacu lagi dan meredam pelambatan. Risk appetite investor tentunya semakin meningkat, dan rupiah akan dapat berkah melimpah.

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)




(pap/pap)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading