China Siap Kompromi, Wall Street Dibuka ke Jalur Hijau

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
15 August 2019 20:58
China Siap Kompromi, Wall Street Dibuka ke Jalur Hijau Foto: REUTERS/Brendan McDermid
Jakarta, CNBC Indonesia-Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan Kamis (15/8/2019) setelah tim perunding China menyatakan akan membuka peluang kompromi dengan pemerintah AS terkait dengan isu perdagangan.

Hua Chunying, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan Negeri Tirai Bambu itu berharap pemerintah AS akan "melanjutkan pembicaraan dengan Beijing yang sudah separuh jalan dan mengimplementasikan konsensus yang dicapai kedua belah pihak di Osaka, Jepang".

Merespons itu, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 119,85 poin atau 0,5% ke 25.599,27 pada pukul 08:35 waktu setempat (atau 20:35 WIB). Di sisi lain, indeks S&P 500  menguat 0,1% (2,95 poin) ke 2.843,55 sedangkan indeks Nasdaq melemah 0,1% atau 7,9 poin ke 7.766,08.


Penguatan Dow Jones juga terjadi di tengah rilis data ekonomi AS, yakni data penjualan ritel yang pada Juli menguat dan mengalahkan ekspektasi. Data ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan konsumen. Produktivitas AS juga masih tumbuh sebesar 2,3% pada kuartal II-2019.

Secara bersamaan, Walmart melaporkan kinerja di atas ekspektasi dan mendongkrak target kinerja perseroan tahun ini, sehingga harga sahamnya melonjak hingga 6,2% di sesi pre-market.

Hanya saja, kenaikan tersebut masih kurang kompak dengan koreksi Nasdaq karena munculnya sinyal resesi dari pasar obligasi. Bursa saham sebelumnya tertekan dan Dow Jones anjlok hingga 800 poin karena sentimen negatif kurva inversi imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Sampai dengan Kamis pagi, kurva tersebut bergerak di sekitar titik inversi, dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun turun ke titik terendahnya dalam sejarah.

"Inversi antara obligasi bertenor 2 dan 10 tahun mengirimkan sinyal negatif yang begitu masif hingga sulit bagi investor saham mengacuhkannya," tulis Managing Director J.P. Morgan Adam Crisafulli, dalam laporan risetnya seperti dikutip CNBC International.

Investor juga masih memantau tensi dagang antara AS dan China, setelah Presiden AS Donald Trump kian memperburuk keadaan. Dalam cuitannya, dia mengaitkan isu dagang kedua negara dengan protes berdarah di Hong Kong.

Pekan ini, Trump memutuskan menunda tarif yang akan diberlakukan terhadap produk-produk China dan mengeluarkan beberapa item dari daftar tarif baru agar tidak memukul belanja konsumen jelang libur panjang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading