Hadapi Tantangan Likuiditas Ketat, Ini Strategi BTN di 2019

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
29 May 2019 04:15
Hadapi Tantangan Likuiditas Ketat, Ini Strategi BTN di 2019
Jakarta, CNBC Indonesia - Problem likuiditas ketat yang membayangi industri perbankan sejak tahun lalu mendorong PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menyiapkan taktik untuk tetap meraih pendanaan efisien tahun ini. Berikut ini strateginya.

Ketatnya likuiditas ini menimpa bank yang memfokuskan bisnisnya pada kredit pemilikan rumah (KPR) ini. Hingga April 2019, perseroan mencatatkan kredit senilai Rp 242,13 triliun, atau tumbuh 19% secara tahunan. Namun, dana pihak ketiga (DPK) berupa tabungan dan deposito mencatatkan pertumbuhan lebih rendah dari itu, yakni 12,44% secara tahunan.

Karenanya, perseroan akan menarik pendanaan dari setidaknya tiga kanal. 
Pertama, perseroan akan menerbitkan obligasi dengan target perolehan dana antara Rp 3 triliun hingga Rp 5 triliun. Saat ini, pembentukan harga (bookbuilding) tengah berjalan dan meraup minat investor hingga berujung pada komitmen pembelian senilai Rp 3,3 triliun.


"Kami juga akan melakukan sekuritisasi yakni Efek Beragunan Aset (EBA) dengan target perolehan dana senilai Rp 2 triliun. Penerbitan EBA ini sudah rutin, tiap tahun pasti ada," tutur Managing Director Collection & Asset Management Bank BTN Nixon LP Napitupulu kepada CNBC Indonesia pada Selasa (28/5/2019) malam.

Dana hasil emisi EBA ini akan digunakan terutama untuk membiayai KPR bersubsidi yang tengah digencarkan perseroan. Sejauh ini, KPR subsidi memang menyumbang 42,56% dari total portofolio kredit perseroan.

Ketiga, perseroan akan menerbitkan obligasi subdebt yang diharapkan terbit pada akhir tahun, yakni pada November atau Desember, dengan target perolehan dana Rp 3 triliun. "Dana perolehannya akan kami gunakan untuk memperkuat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/ CAR)," ujar Nixon.

Jika dinilai masih kurang, maka perseroan akan menyiapkan opsi penerbitan obligasi dolar (global bond) senilai US$300 juta yang bisa diterbitkan pada akhir tahun. "Namun bisa juga pada tahun depan jika kondisi pasar global tahun ini tidak kondusif," tambahnya.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan dengan strategi tersebut, dia berharap BTN bisa naik kelas menjadi bank buku 4 secepatnya pada tahun depan. Bank Buku 4 adalah kasta tertinggi di industri perbankan nasional dengan syarat modal inti minimal Rp 30 triliun.

"Dengan posisi modal inti sekarang Rp 21 triliun, maka dengan tambahan subdebt Rp 3 triliun tahun ini dan laba bersih yang ditargetkan Rp 3 triliun seharusnya cukup untuk membuat modal kami meningkat tahun ini, dan bisa capai buku IV tahun depan," tuturnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading