Ketika 'Sang Naga' Murka Melihat Rupiah Tertindas

Market - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
23 May 2019 17:05
Ketika 'Sang Naga' Murka Melihat Rupiah Tertindas
Jakarta, CNBC Indonesia  - Tak ada yang ingin jika nilai tukar rupiah terus terpuruk lawan dolar AS. Tak terkecuali Bank Indonesia (BI) yang menjadi garda terdepan mengawal stabilitas nilai tukar.

Rupiah memang dalam beberapa hari terakhir melemah, tertekan oleh ketidakpastian di pasar keuangan global dan domestik. Namun hari ini menguat cukup signifikan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah berhasil memutus rantai pelemahan selama tiga hari dengan performa yang cukup meyakinkan.


Pada Kamis (23/5/2019), US$ 1 setara dengan Rp 14.465 kala penutupan perdagangan pasar spot. Rupiah menguat 0,38% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Rupiah juga menjadi yang terkuat di Asia.




Ketika rupiah terpuruk, untuk diketahui BI harus menggelontorkan banyak dolar layaknya 'Naga' yang menyemburkan api.

Saat ini memang kondisi global masih penuh tantangan, penguatan hari ini dipicu oleh mulai berkurangnya ketidakpastian di domestik yang mendorong masuknya arus modal asing ke pasar obligasi negara dan saham, yang kemudian diikuti oleh pelepasan devisa oleh kalangan eksportir.

Ketika 'Sang Naga' Murka Melihat Rupiah TertindasFoto: CNBC Indonesia


Di tengah mata uang Dolar AS yang terus menguat terhadap seluruh mata uang dunia karena semakin memanasnya sengketa dagang AS-China, tidak mungkin Rupiah akan berbalik menguat bila tidak ada campur tangan BI. BI sepertinya berupaya keras untuk mencegah kurs Rupiah tidak tembus di atas Rp 14.550/US$.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah menuturkan keberadaan BI yang konsisten berada di pasar adalah untuk memastikan bahwa bila Rupiah melemah maka harus berjalan secara gradual.




"Namun, pada momentum tertentu Bank Indonesia perlu mengambil langkah yang tegas untuk menahan atau membalik arah pelemahan agar kepercayaan pasar dan masyarakat tetap terjaga terhadap Rupiah," tegas Nanang kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/5/2019).

BI, sambung Nanang, masih terus mewaspadai dinamika di pasar keuangan global dan memonitor perkembangan kebutuhan devisa untuk siklus pembayaran deviden oleh korporasi.

Tensi sengketa dagang AS-China masih terus perlu dicermati. Sebagaimana diketahui, menyusul pembatasan kerja sama perusahaan China Huawei dengan beberapa perusahaan AS

Pemerintahan AS akan menargetkan lebih banyak perusahaan teknologi China dalam negoisasi perdagangannya.

"Oleh karena itu, Bank Indonesia akan terus mengawal stabilitas Rupiah dengan tiga bauran instrumen. Yaitu stabilisasi di pasar spot, pasar DNDF [Domestic Non-Delivery Forward] dan pasar obligasi negara," tutup Nanang.








(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading