Duh! Bursa AS Dibuka Melemah Efek Data Ritel & Perang Dagang

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
22 May 2019 21:21
Duh! Bursa AS Dibuka Melemah Efek Data Ritel & Perang Dagang
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) berbalik melemah pada pembukaan Rabu (22/5/2019), menyusul naiknya kembali tensi kekhawatiran seputar perang dagang.

Indeks Dow Jones Industrial Average (Dow Jones) melemah 89 poin pada pembukaan pagi, dan kemudian sedikit surut sebesar 71,55 poin (0,28%) ke 25.805,78 pada pukul 08:40 waktu setempat atau 20:40 WIB. Di sisi lain, indeks S&P 500 melemah 0,3% atau 9,54 poin ke 2.853,58. Sementara itu, indeks Nasdaq tertekan 0,3% atau 23,6 poin ke 7.762,1.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dalam wawancaranya dengan CNBC mengatakan bahwa pihaknya belum menjadwalkan kunjungan tambahan ke Beijing untuk bernegosiasi. Pernyataan ini membuyarkan harapan akan adanya opsi lebih cepat terkait perang dagang.




Di sisi lain, The South China Morning Post melaporkan bahwa Beijing mempertimbangkan memangkas pembelian gas alam dari AS. Pada 2017, nilai pembelian minyak mentah dan gas alam dari AS mencapai US$6,3 miliar (Rp 91,4 triliun). Langkah itu merespons masuknya raksasa telekomunikasi China Huawei ke daftar perusahaan yang dipersulit bisnisnya di AS.

"Ini menurut kami akan memperlemah kebijakan AS melarang Huawei dan memberikan kekuatan bagi China dalam pertarungan pasar chip menjelang pembicaraan di G-20," tutur analis Wedbush Securities Dan Ives, sebagaimana dikutip CNBC International.

Secara fundamental, pelaku pasar juga memperhatikan data tekanan di industri ritel. Saham Lowe anjlok lebih dari 8% menyusul laba yang lebih rendah dari ekspektasi. Di sisi lain, saham Nordstrom anjlok 7,9% setelah melaporkan pendapatan dan laba bersih di bawah ekspektasi.

Investor juga menunggu rilis hasil pertemuan bank sentral AS. Federal Reserve diekspektasikan mempublikasikan pandangan ekonominya yang tertuang dalam notulen rapat pada 1 Mei ketika suku bunga acuan ditahan.

Di tengah situasi demikian Gubernur Fed St. Louis James Bullard mengatakan bank sentral AS cenderung menaikkan suku bunga acuan terlalu tinggi tahun lalu.

"Saya khawatir kita sudah sedikit berlebihan dengan kenaikan pada Desember," ujarnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading