Bursa AS Memerah Respons Perkembangan Perang Dagang & Brexit

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 May 2019 21:05
Bursa AS Memerah Respons Perkembangan Perang Dagang & Brexit Foto: New York Stock Exchange (AP Photo/Richard Drew)
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka anjlok pada perdagangan Jumat (17/5/2019) setelah pejabat China menyerang AS atas sikap mereka yang merundung pihak lain.

Indeks Dow Jones Industrial Average (Dow Jones) anjlok 148 poin pada pembukaan sebelum kemudian membaik menjadi hanya 104 poin (0,4%) ke 25.758,61 pada pukul 08:45 waktu setempat, atau pukul 20:45 WIB. Sementara itu indeks S&P 500 melemah 0,45% atau 13,1 poin ke 2.863,35 sedangkan indeks Nasdaq turun 0,5% atau 39,5 poin ke 7.860.

Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng sebagaimana dilansir Xinhua menilai AS sedang mempertontonkan "perilaku bully" dengan aksi mereka dalam perdagangan, menegaskan AS secara sepihak menaikkan tensi perang dagang, sehingga negosiasi mengalami kemunduran.




China baru saja menetapkan kenaikan tarif terhadap produk impor asal AS senilai total US$60 miliar. Langkah itu diambil mengikuti kenaikan tarif yang dikenakan AS terhadap produk China senilai total US$200 miliar.

AS juga mempersulit perusahaan AS berbisnis dengan Huawei, raksasa telekomunikasi di Negeri Panda. Akibatnya, saham perusahaan penyuplai AS seperti Qualcomm, Qorvo dan Micron Technology jatuh masing-masing sebesar 2,5%, 3,4% dan 2%.

"Dilihat dari kaca mata manapun, ini adalah serangan terhadap pemerintah China, yang dianggap sebagai pemilik akhir dari Huawei," ujar pendiri The Sevens Report Tom Essaye, sebagaimana dikutip CNBC International.

Pada perdagangan hari ini, harga saham di bursa China anjlok dengan koreksi indeks Shanghai Composite sebesar 2,5% menjadi koreksi mingguan terpanjang sejak Juli 2018. Padahal, sebelumnya pasar bereaksi positif terhadap sikap AS untuk menunda tarif terhadap mobil impor selama 6 bulan.

Investor di Wall Street juga mencemaskan negosiasi Brexit yang berpeluang buyar. Dua partai politik terbesar di Inggris gagal untuk mencapai kesepakatan mengenai cara keluar dari Uni Eropa (UE) meski pembicaraan telah berlangsung selama enam pekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading