Tertekan Sepanjang Hari, Intervensi Selamatkan Pasar Obligasi

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
16 May 2019 18:53
Tertekan Sepanjang Hari, Intervensi Selamatkan Pasar Obligasi Foto: Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah berbalik menguat pada penutupan pasar sore ini, seiring dengan intervensi yang dilakukan bank sentral di tengah panasnya perang dagang China-Amerika Serikat. 

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu seiring dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  

Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. 

Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0079 yang bertenor 20 tahun dengan penurunan yield 4 basis poin (bps) menjadi 8,57%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.  

"Kita melakukan intervensi ganda untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di samping memperluas pasar keuangan," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, usai Rapat Dewan Gubernur bulanan, hari ini Kamis (16/5/2019).  

Yield Obligasi Negara Acuan 16 Mei'19
Seri Jatuh tempo Yield 15 Mei'19 (%) Yield 16 Mei'19 (%) Selisih (basis poin) Yield wajar IBPA 15 Mei'19
FR0077 5 tahun 7.516 7.529 1.30 7.4796
FR0078 10 tahun 8.019 8.012 -0.70 7.98
FR0068 15 tahun 8.531 8.515 -1.60 8.4654
FR0079 20 tahun 8.612 8.572 -4.00 8.5583
Avg movement -1.25
Sumber: Refinitiv  


Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat.  

Indeks tersebut naik 0,01 poin (0,01%) menjadi 243,61 dari posisi kemarin 243,6. 

Apresiasi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 562 bps, menyempit dari posisi kemarin 563 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun naik hingga 2,39% dari posisi kemarin 2,38%. 

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada tenor 3 bulan-10 tahun yang menjadi indikator yang lebih tegas bahwa potensi resesi AS semakin dekat, yang kembali muncul setelah perang dagang China-AS memanas. 

Sebelumnya, inversi dua tenor tersebut muncul pada Maret. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang. 

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis. 

Yield US Treasury Acuan 15 Mei'2019
Seri Benchmark Yield 15 Mei'19 (%) Yield 16 Mei'19 (%) Selisih (Inversi) Satuan Inversi
UST BILL 2019 3 Bulan 2.409 2.402 3 bulan-5 tahun 23.1
UST 2020 2 Tahun 2.168 2.19 2 tahun-5 tahun 1.9
UST 2021 3 Tahun 2.122 2.144 3 tahun-5 tahun -2.7
UST 2023 5 Tahun 2.153 2.171 3 bulan-10 tahun 1.5
UST 2028 10 Tahun 2.379 2.387 2 tahun-10 tahun -19.7
Sumber: Refinitiv  


Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 955,5 triliun SBN, atau 38,61% dari total beredar Rp 2.475 triliun berdasarkan data per 15 Mei.  

Angka kepemilikannya masih positif Rp 62,25 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. 

Meskipun masih positif sejak 2018, koreksi pasar obligasi yang terjadi sejak sebulan terakhir sudah mulai menunjukkan dampak pada kepemilikan investor asing yang berkurang hari ini dibanding pekan lalu. Posisi hari ini masih negatif Rp 6,22 triliun dibanding posisi akhir pekan lalu Rp 961,72 triliun. 

Penguatan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar valas yang naik 0,07%, sedangkan pasar sahma masih terkoreksi cukup dalam yaitu -1,42%. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan terjadi secara luas yaitu di China, Malaysia, Filipina, Rusia, Singapura, dan Afsel. 

Di negara maju, penguatan juga terjadi di pasar OAT Perancis, gilt Inggris, dan JGB Jepang.   

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
Negara Yield 15 Mei'19 (%) Yield 16 Mei'19 (%) Selisih (basis poin)
Brasil 8.9 8.9 0.00
China 3.32 3.289 -3.10
Jerman -0.096 -0.096 0.00
Perancis 0.307 0.299 -0.80
Inggris 1.069 1.059 -1.00
India 7.377 7.382 0.50
Jepang -0.05 -0.058 -0.80
Malaysia 3.831 3.818 -1.30
Filipina 5.797 5.782 -1.50
Rusia 8.16 8.11 -5.00
Singapura 2.153 2.138 -1.50
Thailand 2.45 2.46 1.00
Amerika Serikat 2.379 2.391 1.20
Afrika Selatan 8.49 8.405 -8.50
Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading