Arab Saudi Bisa Tingkatkan Produksi, Harga Minyak Lemas

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
26 April 2019 09:33
Arab Saudi Bisa Tingkatkan Produksi, Harga Minyak Lemas
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah global berada di zona merah pada perdagangan Jumat (26/4/2019) pagi. Pelaku pasar mulai mengkhawatirkan rencana Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk meningkatkan produksi minyak.

Pada pukul 09:00 WIB, harga minyak Brent kontrak pengiriman Juni terkoreksi 0,24% ke posisi US$ 74,17/barel, setelah ditutup melemah 0,3% kemarin (25/4/2019).

Sedangkan harga light sweet (WTI) melemah 0,48% ke level US$ 64,9/barel, setelah amblas hingga 1,03% pada penutupan perdagangan kemarin.




Ekspor minyak Iran yang semakin tertekan tampaknya akan membuat OPEC meningkatkan produksinya. Bahkan Amerika Serikat tengah mendesak OPEC untuk meningkatkan produksi minyak.

Dalam sebuah cuitan di Twitter, Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya bisa lebih dari sekedar 'menggantikan' pasokan yang hilang dari Iran.

Beberapa analis juga meyakini bahwa AS akan terus menekan Arab Saudi untuk meningkatkan produksi.

"AS akan lanjut menekan Arab Saudi untuk meningkatkan produksi untuk mengisi kekosongan [supply]," ujar Alfonso Esparza, analis pasar senior OANDA, mengutip Reuters, Jumat (26/4/2019).

Selain itu, banyak analis juga yakin bahwa Iran masih akan tetap dapat mengekspor minyak, meskipun jumlahnya akan jauh lebih sedikit.

"Minyak mentah sebanyak 400 ribu hingga 500 ribu barel/hari akan tetap diekspor [oleh Iran]," ujar FGE, mengutip Reuters. Sebagian besar minyak tersebut akan diselundupkan Iran atau tetap dibeli oleh China.

China diprediksi tidak akan begitu saja patuh terhadap tindakan yang diambil oleh AS. Sampai saat ini China juga masih menjadi importir minyak Iran yang terbesar, dengan total volume mendapat 585,4 ribu barel/hari di tahun 2018.

"Sebagian besar pelaku pasar yakin bahwa China akan terus membeli minyak Iran, bahkan membeli lebih banyak," kata Bjarne Schieldrop, strategist komoditas SEB, seperti yang dilansir dari Reuters, Selasa (23/4/2019).

Sebagai informasi, Pemerintah AS telah mengumumkan akhir dari masa keringanan sanksi atas Iran pada hari Senin (22/4/2019). AS sudah dengan jelas melarang seluruh negara sekutunya untuk membeli minyak asal Negeri Persia mulai bulan Mei 2019. Bila tetap melakukannya, AS mengancam akan memberi sanksi.

Tentu saja ini akan membuat minyak produksi Iran akan sulit untuk dilepas ke pasar. Padahal sejak awal tahun 2019, ekspor minyak Iran berkisar 1,5 juta barel/hari.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/taa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading