Apakah Saling Klaim Kemenangan Capres Pengaruhi Investor?

Market - Iswari Anggit Pramesti, CNBC Indonesia
22 April 2019 13:54
Apakah Saling Klaim Kemenangan Capres Pengaruhi Investor?
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia berhasil melaksanakan pemilihan umum 2019 dengan baik, tertib dan aman. Kini semua pihak, baik masyarakat maupun para investor sedang menunggu hasil perhitungan suara resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Masyarakat Indonesia mungkin masih merasa cemas, apakah Calon Presiden dan Wakil Presiden yang dijagokan menjadi pemenang atau tidak. Akan tetapi, menurut para ekonom perbankan, kecemasan ini tidak berlaku bagi investor asing.

Mengapa demikian?


Para ekonom perbankan yang dihubungi Tim CNBC Indonesia, Senin (22/4/2019) menjelaskan, investor asing sudah melihat hasil hitung cepat atau quick count dari pemilu pada Rabu, 17 April 2019 lalu. Mereka juga mengetahui cara perhitungan cepat dan kredibilitas lembaga survey, sehingga para investor cukup yakin akan hasilnya.

Hasil quick count tersebut menunjukkan Joko Widodo (Calon Presiden petahana nomor urut 01) unggul atas lawannya, Prabowo Subianto (calon presiden nomor urut 02).

Menurut para ekonom perbankan, investor merasa senang jika Joko Widodo kembali memenangkan pemilu 2019, dan mereka bisa melanjutkan investasinya untuk lima tahun ke depan. Hal ini karena para investor sudah mengetahui kebijakan era Joko Widodo terkait investasi sehingga mengurangi ketidakpastian. Di samping itu, investor juga mengapresiasi reformasi struktural di era Joko Widodo.

Hal serupa juga terjadi dalam investasi portofolio. Para ekonom perbankan ini, melihat adanya peningkatan arus modal masuk dari pasar saham. Bahkan, menurut salah satu ekonom, aliran modal masuk dari awal tahun yang kurang lebih mencapai Rp 100 triliun ini, 85%-nya berasal dari Surat Berharga Negara atau SBN.

Meskipun demikian, para ekonom tidak menampik adanya faktor eksternal yang menjadi pertimbangan investor untuk berinvestasi. Namun saat ini, faktor dalam negeri yang positif diyakini mampu menambah confidence investor terhadap Indonesia.

Nah, berikut penjelasan lengkap dari masing-masing ekonom, terkait aliran modal masuk ke Indonesia.

1. Kepala Ekonom BCA, David Sumual

Kondisi aliran modal masuk ke Indonesia saat ini seperti apa, dan apa saja faktor yang mempengaruhinya, baik eksternal maupun internal?
Ya alirannya memang sejak awal tahun masih deras, sudah sekitar Rp 100 triliun dan 85% kebanyakan SBN. Kebanyakan investasi di SBN.

Ini mungkin terkait kondisi eksternalnya yang masih kondusif. Beritanya-kan nanti awal Bulan Mei sudah ada kesepakatan dagang, kata ketua negosiasi dagang Amerika.

Tapi juga baru ada berita itu, waver untuk ekspor minyak Iran ke tujuh atau delapan negara itu kemungkinan bisa diputus oleh Amerika dalam waktu dekat. Nah itu mempengaruhi sekali ke harga minyak. Itu bisa mempengaruhi sentimen investor, jadi harus hati-hati. Makanya hr ini kita lihat agak turun harga saham, Rupiah juga sedikit melemah.

Waver-kan tadinya Iran ga boleh ekspor minyak oleh Amerika, tapi dikasih waver dia boleh ekspor ke Cina, India, Korea Selatan, terus Turki, Yunani, ada beberapa negara itu. Nah ini berakhir masanya awal Mei ini. Bisa saja tidak diperpanjang oleh Amerika, kalau benar-benar tidak diperpanjang itu bisa ... kita lihat saja harga minyak hari ini sudah hampir naik 3%, jd itu yang membuat market agak sedikit sedikit koreksi hr ini.

Kalau dari dalam negeri, klaim menang pemilu 2019 dari kedua kubu, apakah juga berpengaruh pada aliran modal masuk?
Itu tidak pengaruh. Sebenarnya kondisi sekarang sudah di price in juga oleh pasar, kemungkinan dispute, klaim-klaim semacam itu tidak ada masalah. Semua berjalan lancar, aman, tinggal menunggu hasil resmi KPU.

Jokowi effect juga, seperti yang tadi saya bilang, pasar sudah price in. Jadi, dalam beberapa minggu terakhir kemungkinan tidak ada Jokowi effect yang besar. Kemarinkan naik sedikit karena memang market sudah lihat realitas selama lima tahun, jadi mereka tetap positif. Tapi ke depannya menunggu faktor eksternal.

2. Ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardana

Kondisi aliran modal masuk ke Indonesia saat ini seperti apa, dan apa saja faktor yang mempengaruhinya, baik eksternal maupun internal?
Terkait FDI (Foreign Direct Investment) lain faktor driver-nya, karena lebih longterm. Menurut survey terakhir yang dilakukan JBIC (Japan Bank for International Cooperation), dia men-survey sekitar 18 ribu perusahaan Jepang, baik itu yang ada di Jepang maupun yang beroperasi di Asia Pasifik, di masing-masing negara. Dari 18 ribu itu yang respon sekitar lima ribuan plus-lah.

Di situ highlight-nya yang bisa dilihat bahwa untuk investasi langsung ada beberapa isu yang menjadi tantangan buat kita, terutama dibandingkan Vietnam, Filipina, dan Thailand, profit margin perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia selama 5 tahun terakhir berada di bawah negara-negara itu.

Nah profit margin yang lebih rendah itu salah satu alasannya tantangan di sektor tenaga kerja. Jadi, mereka menyoroti masalah labour cost, bukan hanya di masalah gaji dan komponennya, tapi juga masalah pesangon. Itu aturannya berbeda antara di Indonesia dan negara lain.

Terus juga keterhubungan peraturan pusat dan daerah, juga jadi yang salah satu mereka lihat. Itu kalau investasi langsung, urusannya lebih ke sana.

Kalau portofolio kemarin, itu-kan ada positif sentimen sedikit dengan quick count result. Asingkan tahunya quick count result itu cukup formal. Jadi memang dari Hari Rabu pun di pasar luar negeri terhadap Indonesia sudah positif, dari hasil quick count itu. Realisasinya di Hari Kamis ada pembelian, Rupiah-nya menguat, terus stock bound ada penguatan sedikit. Cuma memang di saat yang sama juga ada profit taking, sehingga penguatannya sedikit, sementara, habis itu rebound lagi. Melemah lagi.

Kalau dari dalam negeri, klaim menang pemilu 2019 dari kedua kubu, apakah juga berpengaruh pada aliran modal masuk?

Kalau dari pertanyaan [investor] yang datang ke kami, dari Kamis lalu itu, asing tidak melihat itu terlalu ... apa namanya, maksudnya gini 2014 sudah pernah terjadi, hal yang sama, jadi mereka mungkin tidak melihat ini sebagai suatu yang baru. Kedua, mereka memahami peta quick count seperti apa, peta lembaga-lembaga itu seperti apa, dilihat dari situ dan pertanyaaan-pertanyaan mereka ke kami, stance-nya sama, menunggu hasil KPU segala macam yang formal, tidak melangkahi duluan, tapi juga tidak melihat ini sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan.

3. Ekonom Permata Bank, Joshua Pardede

Kondisi aliran modal masuk ke Indonesia saat ini seperti apa, dan apa saja faktor yang mempengaruhinya, baik eksternal maupun internal?
Menurut saya, arus modal masuk ke pasar keuangan domestik berupa investasi portofolio ditopang oleh sentimen positif baik dari eksternal dan domestik.

Dari eksternal, kebijakan suku bunga bank sentral AS yang diperkirakan tetap hingga akhir tahun ini mendorong masuknya kembali dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk mempertimbangkan ekspektasi perlambatan ekonomi AS sehingga menjaga daya tarik aset keuangan yang lebih berisiko di negara berkembang.

Sementara dari dalam negeri, stabilitas perekonomian yang tercermin dari stabilnya nilai tukar rupiah, serta terkendalinya inflasi mendorong arus modal masuk di pasar saham dan pasar obligasi Indonesia mencapai sekitar US$ 4,8 miliar.

Kalau dari dalam negeri, klaim menang pemilu 2019 dari kedua kubu, apakah juga berpengaruh pada aliran modal masuk?

Menurut saya pelaku pasar, khususnya investor asing, cenderung rasional dan mempertimbangkan hasil quick count yang sudah teruji ketepatannya dengan hasil real count KPU sejak pemilu 2004, dengan tingkat error yang cenderung kecil sekali. Artinya dapat memprediksi secara tepat hasil pemilu real count 2019.

Berdasarkan hasil quick count yang menyimpulkan kemenangan incumbent, yang sejak awal merupakan preferensi pelaku pasar terutama investor asing.

Investor berharap keberlangsungan bisnis dan investasi dari berlanjutnya incumbent sebagai presiden untuk lima tahun mendatang. Investor juga mengapresiasi reformasi struktural serta deregulasi kebijakan ekonomi yang akan berdampak positif bagi keberlanjutan perekonomian Indonesia dalam jangka menengah-panjang.

Optimisme kemenangan incumbent tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah dan apresiasi IHSG pada perdagangan Kamis lalu. Meskipun demikian, jika kubu penantang melakukan gugatan ke MK memang akan mendorong sedikit ketidakpastian.

Namun, melihat kejadian yang sama pada tahun 2014, di mana gugatan hasil pilpres ditolak oleh Mahkamah Konstitusi, nampaknya hasil yang sama juga akan terjadi pada tahun 2019 ini, mengingat selisih suara antara petahana dan penantang cenderung cukup lebar sekitar 8-9%, sehingga pasar tidak terpengaruh besar akan rencana untuk melakukan gugatan ke MK.








(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading