Inventori AS Menipis, Harga Minyak Kok Malah Loyo?

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
18 April 2019 09:15
Inventori AS Menipis, Harga Minyak Kok Malah Loyo?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia terus terkoreksi hingga perdagangan Kamis (18/4/2019) pagi ini. Bahkan pelemahan harga terjadi setelah stok mingguan minyak Amerika Serikat (AS) berkurang secara mengejutkan.

Pada pukul 08:45 WIB, harga Brent turun 0,31% ke posisi US$ 71,4/barel. Padahal pada perdagangan sesi sebelumnya, Brent sempat menyentuh US$ 72,27/barel atau tertinggi sejak November 2018.

Adapun harga light sweet (WTI) kontrak Mei juga terkontraksi 0,14% ke level US$ 63,67/barel, setelah juga turun 0,45% pada sesi sebelumnya.




Stok minyak Negeri Paman Sam untuk minggu yang berakhir pada 12 April turun hingga 1,4 juta barel. Hal tersebut diumumkan oleh yang lembaga resmi pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA) dini hari tadi. Padahal konsensus pasar yang dihimpun Reuters memprediksi adanya kenaikan hingga 1,7 juta barel/hari. Artinya konsumsi minyak di AS masih cukup tinggi, di saat pasokan makin ketat.

Namun apa daya, sentimen tersebut terbukti tak mampu memberi tarikan ke atas yang cukup kuat. Harga minyak masih melemah. Pasalnya sejumlah sentimen negatif yang membebani pasar minyak dunia juga masih kuat.

Rusia, yang tergabung dalam koalisi sekutu Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) semakin kuat memberi sinyal-sinyal peningkatan produksi.

Seorang pejabat Gazprom Neft, yang merupakan perusahaan minyak Rusia memprediksi kesepakatan pemangkasan produksi minyak OPEC+ (OPEC dan sekutunya) akan berakhir pada tengah tahun 2019.

"Dalam proyeksi tahun ini, kami mengasumsikan kesepakatan [pemangkasan produksi minyak] akan efektif hingga tengah tahun. Dengan begitu, produksi minyak kami akan meningkat 1,5% dibanding tahun lalu," ujar Vadim Yakovev, Deputi CEO GAzprom Neft, mengutip Reuters, Rabu (17/4/2019).

Masih dari sumber yang sama, Menteri Energi Rusia, Alexander Novak pun mengatakan bahwa produksi minyak Negeri Beruang Merah akan ditingkatkan apabila tidak ada kesepakatan baru dengan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) hingga tanggal 1 Juli 2019.

"Tahun ini [2019] kami memperkirakan [produksi minyak] akan mirip dengan tahun lalu, mungkin sedikit lebih tinggi," ujar Novak kepada reporter, Jumat (5/4/2019).

Peningkatan pasokan bukanlah berita baik untuk pasar minyak. Karena dengan begitu, keseimbangan fundamental bisa kembali membebani harga. (taa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading