Reli Harga Obligasi RI Berlanjut karena Damai Dagang

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
20 February 2019 10:29
Reli Harga Obligasi RI Berlanjut karena Damai Dagang
Jakarta, CNBC Indonesia - Reli harga obligasi rupiah pemerintah masih berlanjut. Atmosfer positif di pasar surat utang negara (SUN) terbentuk karena pelaku pasar berekspektasi damai dagang bisa membuat ekonomi global lebih baik.

Kenaikan harga SUN tak senada dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  

Data Refinitiv menunjukkan penguatan harga SUN tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. 


Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0063 bertenor 5 tahun, FR0064 bertenor 10 tahun, FR0065 bertenor 15 tahun, dan FR0075 bertenor 30 tahun. 

Seri acuan yang paling menguat adalah FR78 yang bertenor 10 tahun dengan penurunan yield sebesar 5,5 basis poin (bps) menjadi 7,93%, semakin menjauhi level psikologis 8%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.


Yield Obligasi Negara Acuan 20 Feb 2019

SeriJatuh tempoYield 19 Feb 2019 (%)Yield 20 Feb 2019 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 18 Feb'19
FR00775 tahun7.7977.77-2.707.784
FR007810 tahun7.9937.938-5.507.9634
FR006815 tahun8.2978.274-2.308.2612
FR007920 tahun8.4028.359-4.308.3861
Avg movement-3.70
Sumber: Refinitiv 


Apresiasi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 529 bps, menyempit dari posisi kemarin 533 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun turun tipis hingga 2,64% dari posisi kemarin 2,65%. 

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada tenor 2 tahun dengan tenor 5 tahun saja, di mana inversi berarti yaitu lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding seri lebih panjang. 

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis. 

Yield US Treasury Acuan 19 Feb 2019
SeriBenchmarkYield 19 Feb 2019 (%)Yield 20 Feb 2019 (%)Selisih (Inversi)Satuan Inversi
UST BILL 20193 Bulan2.4292.4563 bulan-5 tahun-1
UST 20202 Tahun2.52.4962 tahun-5 tahun3
UST 20213 Tahun2.472.4643 tahun-5 tahun-0.2
UST 20235 Tahun2.4682.4663 bulan-10 tahun-18.7
UST 202810 Tahun2.6452.6432 tahun-10 tahun-14.7
Sumber: Refinitiv  

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, saat ini investor asing menggenggam Rp 931,83 triliun SBN, atau 37,91% dari total beredar Rp 2.457 triliun berdasarkan data per 18 Februari.  

Angka kepemilikan asing bertambah Rp 38,58 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan hanya dialami Brasil, Singapura, dan Afsel di mana sisanya masih terkoreksi. 

Di negara maju, penguatan hanya dialami pasar gilt di Inggris, pasar JGB di Jepang, dan US Treasury di AS.

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang  
NegaraYield 19 Feb 2019 (%)Yield 20 Feb 2019 (%)Selisih (basis poin)
Brasil8.918.81-10.00
China3.1343.1390.50
Jerman0.1010.1060.50
Perancis0.5290.5391.00
Inggris 1.1721.171-0.10
India7.5777.580.30
Italia2.7872.8122.50
Jepang-0.029-0.036-0.70
Malaysia3.8813.8951.40
Filipina6.4496.4490.00
Rusia8.288.335.00
Singapura2.1372.125-1.20
Thailand2.492.51.00
Turki14.5614.626.00
Amerika Serikat2.6452.643-0.20
Afrika Selatan8.8758.87-0.50
Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading