AS "Ganggu" OPEC, Harga Minyak Cenderung Tertekan

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
11 February 2019 10:06
AS
Jakarta, CNBC Indonesia-Harga minyak mentah dunia mengalami tekanan menyusul kenaikan produksi minyak Amerika Serikat (AS), di tengah wacana perundang-undangan baru yang sedang disiapkan anggota Senat negara itu untuk memerangi kartel minyak.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) pada Senin (11/2/2019) berada di posisi US$51,92 per barel, atau turun 1,5% dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka jenis Brent melemah 1,1% ke US$61,39/barel.




Menurut laporan Baker Hughes, perusahan minyak AS pekan lalu menaikkan lagi jumlah fasilitas pengebor minyaknya (rig) yang beroperasi. Ini merupakan kenaikan yang kedua kalinya dalam tiga pekan terakhir. Jumlah rig baru yang beroperasi mencapai tujuh unit, sehingga total rig aktif di AS menjadi 854 unit.

Kenaikan ini otomatis akan mendongkrak produksi minyak AS, yang telah mencapai 11,9 juta barel per hari (bph).
Kenaikan produksi AS bakal menetralisir efek pemangkasan produksi OPEC yang ditargetkan mengurangi pasokan minyak sebesar 1,2 juta bph hingga Juni 2019.

OPEC dan negara produsen minyak lainnya akan bertemu di Wina pada 17-18 April untuk mengambil langkah selanjutnya. 

Di sisi lain, Reuters melaporkan bahwa seorang pejabat pemerintah AS memastikan bahwa Presiden AS Donald Trump akan menyetujui aturan baru untuk melawan kartel minyak dunia. Kombinasi sentiman ini menekan harga minyak mentah dunia, setelah sebulan lalu menguat.

Sepanjang Januari, harga energi utama dunia ini menguat setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries/OPEC) memulai pemangkasan produksinya.

Meski pagi ini melemah, tetapi secara tahun berjalan (year-to-date/YTD), harga minyak masih terhitung menguat di mana harga Brent melonjak 15,24% sedangkan WTI meroket 15,74%. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading