Nafsu IPO: Antara Jargon & Cabutnya Investor Asing

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
06 February 2019 09:30
Nafsu IPO: Antara Jargon & Cabutnya Investor Asing
Jakarta, CNBC Indonesia"Jangan tunggu besar untuk IPO, tapi IPO-lah untuk menjadi besar." Jargon dari Tito Sulistio, Direktur Utama Bursa EFek Indonesia periode 2015-2018, sepertinya menjadi magnet.

Jargon itulah yang diteruskan oleh jajaran direksi setelahnya, periode 2018-2021 di bawah komando Inarno Djajadi, mantan Komisaris Utama PT CIMB Niaga Securities dan Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akhirnya terpilih menggantikan Tito sejak 29 Juni 2018.

Dari jargon inilah, tekad BEI menjadi bursa saham yang mampu mengakomodasi perusahaan-perusahaan dari skala kecil hingga jumbo untuk bisa menjadi emiten atau perusahaan publik (listed company), semakin kuat.

"Makanya menjadi besar sekarang jargonnya, jangan tungg
u Anda menjadi besar masuk pasar modal, nanti kamu tidak akan melihat akselerasinya yang luar biasa. Berikan kesempatan mereka," kata I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI.

Kalimat positif itu mampu memberi kekuatan pada calon emiten, pun dengan kapasitas keuangan yang relatif kecil untuk melantai di BEI lewat skema penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO).

Skema pendanaan ini memfasilitasi sebuah perusahaan untuk menjual sahamnya pertama kali kepada investor umum, masyarakat. Bahasa kerennya, go public atau dijual ke investor publik.

Tahun 2018 menjadi bukti powerfull-nya kalimat tersebut, setelah perusahaan kelas usaha kecil dan menengah (UKM) berbondong-bondong masuk bursa. Kuantitas IPO tahun lalu memang amat banyak, 57 IPO, rekor terbanyak sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

Dari total 57, sebagian besar listing di Papan Pengembangan, sementara 15 di Papan Utama seperti PT Garudafood Putra Jaya Tbk (GOOD) dan PT HK Metals Utama Tbk (HKMU).

Selain itu, lebih dari setengah dari emiten baru ini justru masih mengantongi label sebagai UKM. Dari jumlah itu, 33 emiten baru di antaranya memperoleh dana IPO di bawah Rp 200 miliar, sebagian besar malah hanya mengantongi puluhan miliar. Paling kecil nilainya Rp 16,20 miliar yakni PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI), bergerak di bisnis seafood packaging dan processing.
 

Bandingkan dengan IPO terbesar di Indonesia yakni PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Rp 12,3 triliun, pada 16 Juli 2008 dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) pada 12 November 2007 dengan nilai Rp 3,47 triliun.
 Bisa juga kita tengok Alibaba yang IPO di New York Stock Exchange (NYSE). Raksasa e-commerce asal China ini menjadi perusahaan dengan raihan IPO terbanyak di dunia, US$ 25,03 miliar atau sekitar 325 triliun pada 18 September 2014.


Sumber: Big vs Agile? Global IPO trends Q4 2018 EY


Kendati kecil, pencapaian Indonesia patut dibanggakan karena mencapai rekor, bahkan terbanyak di Asia Tenggara. Data EY 2018 dalam laporan bertajuk Big vs Agile? Global IPO trends Q4 2018, membeberkan Indonesia masuk 12 besar bursa efek dengan IPO terbesar di dunia tahun 2018 (perhitungan hingga 5 Desember 2018).

Secara jumlah, Indonesia ada di urutan ke 10 dengan 53 emiten baru, urutan setelah Bursa Nasdaq OMX dan First North (Nordik, Eropa Timur dan Atlantik Utara) dengan 55 emiten. Urutan pertama Hong Kong sebanyak 197 emiten baru dari dua bursanya.

Tapi secara nilai, Indonesia tak masuk 12 besar karena total IPO hanya sekitar Rp 16 triliun. Bandingkan dengan peringkat 12 yakni Bursa Nasdaq OMX dan First North sebesar US$ 3,6 miliar atau sekitar Rp 50 triliun (asumsi Rp 14.000 per dolar AS). Hong Kong lagi-lagi terbesar, US$ 35,4 miliar atau sekitar Rp 496 triliun dan NYSE US$ 29,7 miliar atau sekitar Rp 416 triliun.

"Selama semester kedua 2018, aktivitas IPO di Thailand dan Indonesia memang sangat tinggi, sementara di negara berkembang lain itu ternodai karena volatilitas market yang tinggi. Kami berharap tren terseb
ut bisa berlanjut pada 2019," tulis laporan EY.

Bercermin dari rekor 2018, tahun ini, BEI mematok target fantastis: 75-100 emiten. Target ini awalnya ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan tujuan menyediakan lebih banyak pilihan saham bagi investor.

BEI pun mengamini 'doa' IPO baru ini dengan merevisi target sebelumnya hanya 35 emiten baru. Tak gentar, bursa malah menilai target tersebut cukup realistis untuk dicapai.

"Bursa sudah melakukan koordinasi internal untuk
memetakan kembali apa yang akan dilakukan untuk mencapai target angka yang sama. Meski di rencana kerja kami masih 35 perusahaan, tapi kami menyadari ada ekspektasi dan rasanya realistis untuk capaian target baru sebanyak 75-100 perusahaan," tegas Hasan Fawzi, Direktur Pengembangan BEI.

Untuk mencapai target, BEI membuka
'keran' guna menjaring banyak perusahaan dari berbagai kalangan agar bisa masuk ke pasar modal. Salah satunya dengan merevisi aturan pencatatatan yang selama ini membatasi kriteria perusahaan tercatat.

Dalam aturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat, BEI mengizinkan perusahaan dengan nilai aset berwujud bersih (net tangible assets) minimal Rp 100 miliar listing di Papan Utama, sementara untuk Papan Pengembangan minimal Rp 5 miliar.

Bahkan, bagi perusahaan tertentu seperti pertambangan dan perusahaan rintisan (startup) bisa diijinkan IPO tanpa harus membukukan laba terlebih dahulu.
 Bagi perusahaan pertambangan, boleh IPO ketika tambangnya masih dalam tahap eksplorasi. Begitu juga startup hanya perlu memasukkan perkiraan laba bersih yang bisa didapatkan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.

Strategi Papan Akselerasi
BEI juga tengah menyiapkan satu papan baru untuk calon emitennya yakni Papan Akselerasi. Meski masih dalam berbentuk rancangan peraturan, namun aturan ini akan mengkhususkan diri untuk membuka gerbang yang lebih lebar untuk UKM untuk IPO.

"Papan Akselerasi supaya bisa menggaet perusahaan small medium enterprise," kata Inarno Djayadi, Direktur Utama BEI.
 Aturan ini sangat mempermudah. Bagaimana tidak, dalam rancangan disebutkan perusahaan yang baru berumur minimal 12 bulan sudah bisa listing.

Belum lagi, dengan adanya poin yang mengizinkan perusahaan baru memperoleh laba pada tahun buku ke 10 sejak tercatat.

Pemisahan kapitalisasi pasar ini sebenarnya juga diterapkan bursa lain dunia lain untuk mengakomodasi perusahaan dengan modal lebih kecil. Misalnya Hong Kong punya Growth Enterprise Market atau GEM, dan merupakan pasar saham khusus pagi perusahaan-perusahaan yang sedang bertumbuh. Kualitasnya lebih kecil ketimbang Bursa Hong Kong. Ada pula AIM, Alternative Investment Market, sub-market dari London Stock Exchange.

Tentu pemisahan Papan Utama, Papan Pengembangan, Papan Akselerasi, bukan menunjukkan perusahaan itu berkinerja kurang baik. Itu hanya satu mekanisme untuk memisahkan dengan saham perusahaan berkriteria lain.

Kendati dari sisi kapasitas, Papan Utama lebih besar karena penghuninya harus punya aktiva berwujud bersih minimal Rp 100 miliar dan minimal operasional 36 bulan, dan syarat lainnya.

BEI sebelumnya juga sudah membangun IDX Incubator, program inkubasi bagi startup yang ingin mencari dana di pasar modal lewat IPO atau obligasi. PT Yelo Integra Dananet Tbk (YELO), alumni program ini berhasil menjadi startup pertama yang IPO pada 29 Oktober 2018.

Namun di sisi lain pencapaian BEI dalam hal jumlah emiten tidak serta merta menarik bagi investor, terutama asing. Sebab, tingkat likuiditas dinilai masih rendah. Jadi, meski banyak saham, tapi yang diperdagangkan itu-itu saja.

Michael Tjoajadi, Presiden Direktur PT Schroders Investment Management Indonesia, menilai tak ada masalah dengan likuiditas saham, tapi perlu ditingkatkan. Salah satu caranya dengan menambah jumlah emiten berkapitalisasi pasar (market capitalization) besar.

"
Banyak public company baru di 2018 tapi kecil-kecil itu kan likuiditas bertambah tapi tidak sesuai, asing enggak bisa beli. Tapi kalau go public free float [saham publik besar] besar berarti kan bigger market cap, lebih bagus," kata dia.

Terbukti, sepanjang tahun lalu, investor asing keluar (net sell) dari bursa kita mencapai Rp 50,75 triliun, terbesar dalam 15 tahun terakhir. Dan ini terjadi dua tahun berturut-turut setelah 2017 juga net sell asing mencapai Rp 39,87 triliun.



Fakta ini mestinya menjadi peringatan, lantaran asing mulai ragu memburu saham di BEI.
 Langkah menarik perusahaan market cap sebetulnya pernah diagendakan bursa, bahkan sebelum periode kepemimpinan Inarno, dari Erry Firmansyah (2009-2012), Ito Warsito (2012-2015), hingga Tito Sulistio (2015-2018). Tapi belum juga terealisasi.

Sebab itu, BEI bakal mengajak perusahaan, yang bahkan, milik asing tapi pendapatannya 100% di Indonesia untuk bisa listing di Indonesia, seperti PT Freeport Indonesia (meski belum resmi dimiliki Indonesia) dan Wilmar International (grup perusahaan agribisnis yang tercatat di Bursa Singapura).

Begitu juga dengan perusahaan lain yang sudah beroperasi di Indonesia sejak lama dan memiliki ukuran besar, seperti PT Sinar Sosro (produsen Teh Botol), PT Kapal Api Global, PT Java Prima Abadi (produsen kopi luwak), dan PT Djarum (milik keluarga Hartono).

Tak ada yang tak mungkin jika ada upaya, pendekatan, dan pemanis yang membuat perusahaan-perusahaan besar itu melirik pasar modal di tengah kecenderungan mengandalkan kas, dan dana perbankan dalam dan luar negeri.

Selangkah di depan, Bursa saat ini sudah memiliki road map terkait dengan pengembangan dan pendalaman pasar. Tinggal tunggu langkah apa yang ditempuh BEI untuk mencapai targetnya.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading