Dua Tahun Pasca-Merger, BTPN Pede Bisa Masuk Jajaran BUKU 4

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
01 February 2019 13:33
Dua Tahun Pasca-Merger, BTPN Pede Bisa Masuk Jajaran BUKU 4
Jakarta, CNBC Indonesia - Usai penggabungan bisnis antara PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI), BTPN berencana menjadi bank BUKU 4 di 2021.

Hal itu ditegaskan Direktur Utama Bank BTPN Ongki Wanadjati Dana, saat menggelar jumpa pers di Menara BTPN.

Ia meyakini, target bank BUKU 4, dengan modal inti paling sedikit sebesar Rp 30 triliun itu bisa tercapai dalam dua tahun ke depan, pasalnya saat ini modal inti BTPN paska merger sudah mencapai Rp telah memiliki Rp 27,81 triliun hingga akhir tahun 2018 lalu.


Untuk menggenjot target tersebut, BTPN melebarkan sayap bisnisnya ke pembiayaan korporasi. "Setelah digabung modal kita menjadi sekitar Rp 25 triliun dan benar aspirasi jangka panjang kami menjadi bank buku 4," kata Ongki di Menara BTPN Jakarta, Jumat, (1/2/2019).

Tidak hanya itu, selain mengembangkan segmen korporasi, perusahaan juga akan menjajal potensi segmen baru yang belum tersentuh, antara lain segmen komersial, atau UKM dengan cakupan bisnis yang lebih besar dan mengembangkan pembiayaan yang mencakup bisnis ritel. "Kemungkinan 2021 kita bisa mencapai tingkan modal BUKU 4 tersebut," tutur dia.

Sekadar gambaran, proses penggabungan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI) rampung. Selesainya proses merger ini membuat BTPN baru menjadi salah satu dari 10 bank dengan aset terbesar di Indonesia.

Pada akhir Desember 2018, BTPN memiliki aset mencapai Rp 101,9 triliun, tumbuh 7% dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) senilai Rp95,5 triliun. Total pembiayaan tercatat Rp 68,1 triliun atau tumbuh 4% dan pendanaan (funding) sebesar Rp80,5 triliun, meningkat 5%. Adapun laba bersih BTPN pada tahun 2018 mencapai Rp1,97 triliun, melonjak 61% dari periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp1,22 triliun.

Usai merger, total aset BTPN akan menjadi Rp 189,92 triliun. Kredit mencapai Rp 133,25 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) jadi Rp 98,97 triliun. BTPN juga memiliki rasio permodalan atau capital adequaty ratio (CAR) di level 22,9%. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross 0,7% dan rasio likuiditas atau loan to funding ratio (LFR) 86%.






(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading