Saham BBNI Jadi Bulan-Bulanan Investor Asing, Apa Sebabnya?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
24 January 2019 15:37
Saham BBNI Jadi Bulan-Bulanan Investor Asing, Apa Sebabnya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi bulan-bulanan investor asing pada hari ini, terlepas dari harganya yang menguat 0,28% ke level Rp 9.075/saham.

Hingga berita ini diturunkan, investor asing membukukan jual bersih senilai Rp 86 miliar atas saham BBNI. Jual bersih investor asing pada saham BBNI merupakan yang terbesar kedua setelah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dijual bersih senilai Rp 131,7 miliar.

Aksi jual investor asing atas saham BBNI nampak dipicu oleh rilis kinerja keuangan yang kurang oke. Kemarin, perusahaan merilis kinerja keuangan untuk tahun 2018. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tercatat sebesar Rp 35,45 triliun, mengalahkan konsensus yang dihimpun oleh Reuters senilai Rp 35,33 triliun. Namun, laba bersih tercatat hanya sebesar Rp 15,02 triliun, di bawah konsensus yang sebesar Rp 15,32 triliun.


Selain karena laba bersih yang tak mampu memenuhi ekspektasi, tekanan terhadap marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) ikut berkontribusi dalam memicu aksi jual investor asing atas saham perusahaan.

Sepanjang 2018, NIM BBNI turun sebesar 20 bps menjadi 5,3%, dari yang sebelumnya 5,5%. Sebagai informasi, NIM dapat dikatakan sebagai 'nyawa' dari operasional sebuah bank. Dengan NIM yang lebih besar, sebuah bank bisa mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi kala menyalurkan kredit dalam besaran yang sama.

Padahal jika kita melihat biaya dana (cost of fund) untuk dana pihak ketiga, besarannya turun menjadi 2,8%, dari yang sebelumnya 3%. Lantas, menipisnya NIM kemungkinan disebabkan oleh penurunan suku bunga kredit yang lebih dalam.

Apa yang terjadi oleh BBNI sejatinya juga dialami oleh bank-bank BUKU 4 lainnya. Sepanjang 9 bulan pertama 2018, NIM dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat sebesar 5,76%, turun 10 bps dari posisi 9 bulan pertama tahun 2017 yang sebesar 5,86%.

NIM dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tergerus 42 bps menjadi 7,49%, dari yang sebelumnya 7,91% pada 9 bulan pertama tahun 2017. Sementara itu, NIM dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 10 bps menjadi 6,1%, dari yang sebelumnya 6,2%.

Persaingan yang ketat dalam menyalurkan pinjaman membuat bank harus mendiskon suku bunga kredit guna mempertahankan pangsa pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading