Waduh! Laju Impor Gula Lebih Kencang dari Konsumsi

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
21 January 2019 17:19
Waduh! Laju Impor Gula Lebih Kencang dari Konsumsi
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak tahun 2017, Indonesia memang tercatat sebagai negara dengan jumlah impor gula terbanyak di dunia.

Namun perlu diketahui bahwa, pada pembahasan kali ini, jenis gula yang menjadi objek adalah gula mentah yang digolongkan dalam kode HS 4 digit 1701.

Mengapa demikian? Karena bila definisi gula diperluas menjadi kode HS 2 digit 17, maka dalam golongan tersebut juga termasuk produk-produk gula jadi seperti permen, kembang gula, sirup, dan turunannya.




Gula dengan kode golongan 1701 sebagian besar merupakan gula mentah yang memerlukan proses produksi lebih lanjut sebelum akhirnya dijual kepada konsumen.

Sejak tahun 2001 tren kenaikan jumlah impor terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada tahun 2016 yang mana impor gula mentah mencapai 4,76 ton per tahun dengan nilai US$ 2,09 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 1,5% dari total nilai impor pada tahun tersebut.



Bila diteliti lebih lanjut, memang angka konsumsi gula dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun, berdasarkan data kompilasi dari United States Departement of Agriculture (USDA). Namun anehnya, tren pertumbuhan impor gula melaju lebih cepat daripada tren pertumbuhan konsumsi gula domestik.

Waduh! Laju Impor Gula Lebih Kencang dari KonsumsiFoto: Sumber: USDA, ITC, dan BPS. Diolah

Hal ini dapat dilihat dari gradien dari pola pertumbuhan impor (m=0,33) yang lebih besar daripada gradien pertumbuhan konsumsi (m=0,2).

Harap dicatat, perhitungan pertumbuhan konsumsi dan impor hanya memperhitungkan data dari tahun 2006-2017. Sebagai informasi, gradien didapat dengan metode regresi linier pada masing-masing kelompok data. Gradien menyatakan laju pertumbuhan, yang mana bila nilainya semakin besar maka pertumbuhannya semakin cepat. 

Terlebih lagi, pada tahun 2016, terjadi lonjakan ekspor yang cukup tinggi, dimana kala itu pertumbuhan impor tahunan mencapai 41% (year-on-year), sedangkan pertumbuhan konsumsi tahunan hanya 13,7%.

Selain itu, produksi gula dalam negeri juga menunjukkan pola yang cenderung stagnan dilihat dari gradien yang realtif landai (m=0,030). Artinya, dari tahun ke tahun, produksi gula dalam negeri nilainya relatif tidak berubah dibanding konsumsi dan impornya.

Dalam kasus seperti ini, stok gula dalam negeri menjadi tanda tanya besar. Pasalnya, bila gula terus diproduksi pada kapasitas yang sama dan impor yang terus meningkat, maka stok gula akan meningkat tanpa adanya pertumbuhan konsumsi yang sepadan.

Pada kondisi normal, tumpukan stok menjadi indikator untuk memperketat impor. Namun pada kenyataannya ,impor malah makin bertambah tiap tahunnya. 

Selain itu, meningkatnya impor di kala produksi dalam negeri stagnan dapat membuat keseimbangan harga di tingkat petani akan terganggu. Sebab gula yang diimpor merupakan gula mentah, yang mana pembelinya adalah pabrik gula. Bila pasokan banjir, bukan tidak mungkin harga jual petani ke pabrik akan semakin tertekan.

Tanda tanya lainnya adalah, untuk apa impor gula semakin banyak kalau konsumsi gula domestik tidak tumbuh 

TIM RISET CNBC INDONESIA

(taa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading