Pasca-Rilis Neraca Dagang China, Harga Minyak Terjun Bebas

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
14 January 2019 12:27
Pasca-Rilis Neraca Dagang China, Harga Minyak Terjun Bebas
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia pada hari ini (14/1/2019), terkoreksi cukup dalam.

 Hingga pukul 12:00 WIB, harga minyak Brent kontrak Maret 2019 kembali anjlok 1,04% ke posisi US$59,84/barel setelah sebelumnya juga melemah 1,95% pada akhir minggu kemarin (11/1/2019).

Sedangkan minyak jenis lightsweet (WTI) kontak Februari 2019 amblas 1,01% ke posisi US$51,05/barel, setelah terkoreksi 1,69% pada penutupan perdagangan sebelumya. 

Pada posisi ini, secara mingguan, harga minyak sudah naik sekitrar 4,93%, sedangkan performa tahunan emas hitam ini tercatat melemah sekitar 16%.




Melemahnya harga minyak dunia pada hari ini terjadi selepas China merilis data neraca perdagangan sekitar pukul 11:00 WIB. Dalam rilisnya, tercatat nilai ekspor Negeri Tirai Bambu periode Desember 2018 turun 4,4%, sedangkan nilai impornya juga turun 7,6%. Kondisi tersebut sukses mencatatkan nilai surplus perdagangan yang terendah sejak 2013 (US$ 351,76 miliar)

"Pertumbuhan ekspor turun lebih dari yang diantisipasi karena perlambatan ekonomi global serta hambatan dari tarif AS yang meningkat. Pertumbuhan impor juga turun tajam akibat perlambatan permintaan domestik. Kami memprediksi keduanya tetap lemah di kuartal mendatang," kata Capital Economics dalam sebuah catatan yang dilansir dari Reuters.

Turunnya nilai ekspor dan impor dari negeri ekonomi terbesar kedua semakin memperlihatkan perlambatan ekonomi yang kian di pelupuk mata. Akibatnya, permintaan energi dunia juga akan berkurang, membuat harga minyak tertekan kuat.

Selain itu, sentimen negatif juga datang dari Benua Biru. Keputusan diterima atau tidaknya proposal Brexit yang diajukan oleh pemerintah Inggris akan ditentukan oleh voting voting parlemen yang dijadwalkan pada 15 Januari 2019. Bila proposal Brexit ditolak, negara dengan kekuatan ekonomi nomor 3 tersebut diprediksi akan mengalami pertumbuhan ekonomi minus 8% di tahun 2019.

Pasalnya, tanpa kesepakatan Brexit, ekspor Inggris ke negara-negara eropa akan terkena tariff tambahan, sedangkan Inggris juga akan memberlakukan bea impor baru untuk barang-barang yang berasal dari eropa. Kombinasi tersebut merupakan jurus jitu untuk menjebol neraca dagang.

Bukan hanya dua, tapi tiga negara dengan ekonomi terbesar dunia (AS, China , Inggris) dihantui perlambatan ekonomi. Sudah barang tentu rantai pasokan dunia akan ikut melambat.

Namun demikian, setidaknya masih ada sentimen positif yang bisa menahan pelemahan harga minyak lebih jauh.

Meski neraca dangang China dalam posisi yang tidak bagus, ternyata nilai impor minyak mentah China masih tetap tinggi ada bulan Desember 2018, yaitu sebesar 10,31 juta barel/hari. Artinya sudah dua bulan berturut-turut impor minyak China berada di atas level 10 juta barel/hari, dikutip dari Reuters.

Ditambah lagi, sepanjang pekan lalu dikabarkan ada 4 rig minyak yang berhenti melakukan aktivitas produksi di Amerika Serikat, berdasarkan laporan mingguan Baker Huges yang dilansir dari Reuters.

Selain itu, optimisnya pelaku pasar akan rencana pengurangan produksi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama Rusia sebanyak 1,2 juta barel/hari yang dimulai pada Januari 2019 juga membantu mendorong harga minyak ke atas. Optimisme tersebut muncul setelah produksi minyak OPEC turun 460.000 barel pada Desember 2018, yang menandakan negara-negara tersebut akan benar-benar patuh pada kesepakatannya dengan Rusia pada awal Desember 2018.

(TIM RISET CNBC INDONESIA) (taa/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading