JK: Mudah-mudahan Suku Bunga BI Turun Lagi

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
09 January 2019 09:45
Derasnya aliran modal asing (capital inflow) dinilai menjadi faktor utama terapresiasinya nilai tukar rupiah.
Jakarta, CNBC Indonesia - Derasnya aliran modal asing (capital inflow) dinilai menjadi faktor utama terapresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi sejak awal tahun ini.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan keperkasaan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi akhir-akhir ini salah satunya didorong derasnya modal asing yang masuk.

"Kami katakan tadi, kurs yang membaik itu salah satunya investasi asing mulai masuk lagi karena antara lain bunga Bank Indonesia dinaikkan dalam waktu 6 bulan. Yang keluar [capital outflow], dia balik lagi," kata Wapres di Jakarta.

JK menegaskan, pemerintah akan tetap menjaga stabilitas dengan berupaya menekan defisit neraca perdagangan yang berpengaruh langsung kepada defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

JK berharap stabilitas, terutama stabilitas nilai tukar akan tetap terkendali melalui berbagai rangkaian kebijakan yang diakukan, serta kenaikan suku bunga Bank Indonesia. Namun, dalam pernyataannya di depan awak media itu, Wapres sempat mengutarakan haparannya terkait dengan langkah BI yang menaikkan suku bunga acuan, BI 7-Day Reserve Repo Rate, sebanyak 175 basis poin sepanjang tahun lalu.

"Kondisi ini bagaimana menjaga defisit perdagangan. Jangan terus-terusan. Di samping tadi menaikan bunga. Mudah-mudahan [bunga BI] bisa turun lagi," kata Wapres.


Sejak awal tahun hingga 8 Januari 2019, nilai tukar rupiah sudah menguat sekitar 2,17%. Bahkan, penguatan mata uang Garuda menjadi yang terbaik dibandingkan mata uang Asia lain. Pada Rabu (9/1/2019), US$ 1 berada di level Rp 14.100 kala pembukaan perdagangan pasar spot. Rupiah menguat 0,28% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Meski demikian, di tengah penguatan rupiah, BI menilai masih kemurahan alias undervalued. Bank sentral masih melihat ruang penguatan rupiah masih terbuka lebar. "Tentunya ruang penguatan rupiah ada. Kami dorong agar rupiah menguat karena selain masih undervalued, rupiah menugat bagus untuk menjaga confidence," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah.


Penguatan rupiah tak lepas dari meredanya sentimen negatif dari perekonomian global. Mulai dari sikap The Fed yang dovish, damai perang dagang antara AS dan China, hingga intervensi yang dilakukan BI.

BI menegaskan akan terus berada di pasar dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Bank sentral tidak ingin, nilai tukar rupiah terlempar jauh dari fundamental yang sebenarnya.
Artikel Selanjutnya

BCA: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Tahan BI7DDR Di 3,5%


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading