Angin Segar dari AS & Regional Bawa Bursa Asia Naik

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
12 November 2018 17:29
Bursa saham utama kawasan Asia ditutup menguat pada perdagangan pertama di pekan ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia ditutup menguat pada perdagangan pertama di pekan ini: indeks Nikkei naik 0,09%, indeks Shanghai naik 1,22%, dan indeks Hang Seng naik 0,12%. Sementara itu, indeks Strait Times turun 0,32% dan indeks Kospi turun 0,27%.

Pada pagi hari, bursa saham Benua Kuning sejatinya kompak dibuka melemah, sebelum mayoritas diantaranya kemudian berbalik arah. Pelemahan terjadi seiring tak positifnya dialog tingkat tinggi antara AS dengan China terkait diplomasi dan pertahanan di Washington yang digelar menjelang akhir pekan lalu.

Delegasi AS dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan Jim Mattis, sementara delegasi China dipimpin oleh anggota politburo Yang Jiechi dan Menteri Pertahanan Wei Fenghe.


Dalam pertemuan ini, Pompeo dan Mattis mengingatkan adanya kekhawtiran mengenai upaya-upaya China untuk memiliki pengaruh di perbatasan-perbatasannya. Keduanya juga mengungkapkan kekhawatiran terkait kepatuhan China dalam memenuhi kewajiban internasional serta komitmen dalam hal hak asasi manusia dan kebebasan beragama di Xinjiang Uygur, sebuah wilayah otonom di Barat Laut China.

Perselisihan kedua negara juga nampak jelas dalam konferensi pers terkait dengan permasalahaan Laut China Selatan, dimana AS dan China menyuarakan pandangan yang berbeda terkait freedom of navigation and militarisation.

Ada 2 hal yang membuat bursa saham utama Asia balik arah. Pertama, aura positif dari Amerika Serikat (AS). Hingga siang hari, kontrak futures Dow Jones mengimplikasikan kenaikan sebesar 85 poin pada saat pembukaan, sementara S&P 500 dan Nasdaq diimplikasikan naik masing-masing sebesar 10 dan 39 poin.

Wall Street diimplikasikan menguat pasca mengalami tekanan jual yang cukup besar pada hari Jumat (9/11/2018). Kala itu, indeks Dow Jones melemah 0,77%, S&P 500 terkoreksi 0,92%, dan Nasdaq anjlok 1,65%.

Kemudian, minggu ini sejatinya merupakan minggu yang penuh optimisme terkait dengan perdagangan. Kemarin (11/11/2018), Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN resmi digelar di Singapura dan akan berlangsung hingga 15 November. Namun, puncak pertemuan acara itu baru akan terjadi pada tanggal 13-15 November, seperti dikutip dari Bloomberg.

Wakil Presiden AS Mike Pence, Presiden Russia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in merupakan pimpinan negara-negara besar yang ikut hadir dalam KTT ASEAN di Singapura.

Pasca gelaran KTT ASEAN di Singapura, para pimpinan negara akan menghadiri pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Papua New Guinea pada 17-18 November. Presiden China Xi Jinping akan ikut hadir dalam pertemuan ini.

Perkembangan mengenai Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) akan dicermati oleh pelaku pasar. Sebagai infromasi, RCEP merupakan perjanjian dagang yang melibatkan 16 negara Asia-Pasifik dengan China sebagai poros utamanya.

Negosiasi terkait kesepakatan dagang ini sudah dimulai sejak 2013 silam. China ingin negosiasi selesai pada tahun ini, namun penolakan dari India membuatnya sulit untuk tercapai hingga kini.

Jika dalam pertemuan ini dicapai terobosan terkait RCEP, maka kekhawatiran terkait perang dagang AS-China bisa sedikit dikesampingkan oleh investor.

Pada hari ini, pertumbuhan penjualan barang-barang ritel di Singapura periode September diumumkan sebesar 1,9% YoY, mengalahkan capaian bulan Agustus yakni kontraksi sebesar 0,4% YoY.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Perang Dagang Masih Bisa Tereskalasi, Bursa Saham Asia Loyo


(ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading