Wah, Harga Minyak Sudah Tembus US$85/barel!

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
02 October 2018 10:27
Harga minyak jenis brent naik 0,06% ke level US$85,03/barel hingga pukul 10.00 WIB, pada perdagangan hari Selasa (2/10/2018).
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga minyak jenis brent kontrak pengiriman Desember 2018 naik 0,06% ke level US$85,03/barel hingga pukul 10.00 WIB, pada perdagangan hari Selasa (2/10/2018). Di waktu yang sama, harga minyak jenis light sweet kontrak November 2018 juga menguat 0,33% ke level US$75,55/barel.

Dengan pergerakan tersebut, harga minyak kompak menguat selama 4 hari berturut-turut. Harga brent yang menjadi acuan di Eropa kembali mencetak rekor tertingginya baru dalam 4 tahun terakhir, atau sejak November 2014.

Namun, kini harga light sweet yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) sukses mengekor rekor yang dicetak brent. Harga light sweet berhasil menembus level US$75/barel untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir.




Sentimen positif yang menjadi pendorong harga sang emas hitam hari ini masih datang dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang akan menyasar sektor perminyakan pada November mendatang.

Per 4 November, Washington meminta pembeli minyak mentah dari Iran (khususnya mitra AS) untuk memangkas pembelian dari Iran hingga ke titik nol.  Ancamannya adalah barang siapa yang berbisnis dengan Iran, maka tidak bisa berbisnis dengan Negeri Adidaya.

Sanksi ini berpotensi mengurangi pasokan minyak di pasar dunia. Pada puncaknya di 2018, Iran mengekspor 2,71 juta barel/hari, hampir 3% dari konsumsi harian minyak mentah global. Namun, mengutip data Refinitiv Eikon, ekspor Iran di September kini hanya tinggal 1,9 juta barel/hari, atau level terendahnya sejak pertengahan 2016.

Di sisi lain, banyak pihak meragukan Saudi dan kolega mampu menutupi hilangnya pasokan yang besar dari Negeri Persia.

Teranyar, survei Reuters menemukan bahwa Organisasi Negara-negara Pengeskpor Minyak (OPEC) hanya mampu meningkatkan produksi minyak secara terbatas pada bulan September. Disrupsi pengiriman dari Iran impas dengan naiknya produksi di Libya, Arab Saudi, dan Angola.

Secara total, OPEC memompa minyak sebesar 38,25 juta barel/hari pada September, naik 90.000 barel/hari dari capaian Agustus, dan merupakan level tertingginya di tahun ini.

Namun, akibat kejatuhan pasokan dari Iran (ditambah Venezuela), tingkat kepatuhan anggota OPEC terhadap kesepakatan pemangkasan produksi meningkat menjadi 128% per September, naik dari 122% di Agustus. Artinya, sejauh ini sebenarnya belum ada peningkatan produksi yang signifikan dari OPEC.

BACA: Perhatian! Harga Minyak Bisa Sentuh US$ 100/Barel

Sementara, harga minyak AS juga kini mendapatkan suntikan energi positif dari AS dan Kanada yang akhirnya berhasil menyepakati kerangka baru Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). yang diberi nama The United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA).

Kesepakatan USMCA tersebut membawa angin segar bagi si emas hitam. Damai dagang di Amerika Utara diharapkan mampu mendongkrak permintaan energi, apalagi salah satu kesepakatan yang dicapai adalah di bidang otomotif. Kenaikan permintaan tentu akan mengerek harga ke atas.

(TIM RISET CNBC INDONESIA)


Artikel Selanjutnya

Rusia-OPEC Tahan Kenaikan Produksi, Reli Harga Minyak Lanjut!


(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading