Jelang Lelang, Harga Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
12 September 2018 10:43
Keterbatasan pergerakan diprediksi karena adanya lelang rutin dan pengumuman data ekonomi beberapa hari ke depan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar obligasi diprediksi menguat terbatas pada perdagangan hari ini. Keterbatasan pergerakan diprediksi karena adanya lelang rutin dan pengumuman data ekonomi beberapa hari ke depan. 

PT Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam risetnya menyatakan data yang akan dikeluarkan pekan ini adalah inflasi Amerika Serikat (AS) dan data pengangguran AS. 

Pekan depan akan diumumkan data perdagangan Indonesia dan pengumuman suku bunga acuan AS di akhir September akan membuat pelaku pasar menahan nafas sejenak dari aktivitasnya sekaligus memberi sentimen negatif di pasar surat utang domestik. 


Faktor positif yang dapat memengaruhi pasar keuangan domestik hari ini adalah pernyataan Nomura Holding yang memasukkan Indonesia ke dalam negara berkembang dengan risiko krisis terkecil. Berikut beberapa topik yang akan menjadi perhatian pasar hari ini: 
  • Nomura Holdings Inc menyatakan tujuh negara berkembang berisiko besar jatuh dalam krisis mata uang yaitu Sri Lanka, Afrika Selatan, Argentina, Pakistan, Mesir, Turki, dan Ukraina. Nomura juga menggolongkan Indonesia dan tujuh negara berkembang lain dengan risiko krisis terkecil yaitu Brasil, Bulgaria, Kazakhstan, Peru, Filipia, Rusia, dan Thailand. (Kontan)
  • Imbal hasil obligasi pemerintah zona Amerika didominasi kenaikan imbal hasil (yield) yang berarti koreksi harga. Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah zona Eropa didominasi oleh kenaikan imbal hasil yang berarti koreksi harga.
  • Imbal hasil pasar obligasi pemerintah di daerah Asia Pasifik didominasi kenaikan imbal hasil dan berarti koreksi harga. Kenaikan imbal hasil terbesar terjadi di pasar obligasi pemerintah India (8,18%) dan penurunan imbal hasil terbesar terjadi di pasar obligasi Korea Selatan (2,23%).
  •  Imbal hasil surat berharga negara (SBN) Indonesia bertenor 10 tahun ditutup melemah menjadi 8,57% pada Senin dibanding sebelumnya 8,45%. Rupiah ditutup menguat di Rp 14.857 per dolar AS dibanding hari sebelumnya Rp 14.820 per dolar AS.
  • Total transaksi dan frekuensi SBN turun dibandingkan hari sebelumnya di tengah hari kerja yang diapit libur dan hadirnya lelang hari ini. Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi < 1 tahun, diikuti dengan 15 tahun - 20 tahun dan 7 tahun - 10 tahun. Sisanya merata di semua tenor hingga 20 tahun. Obligasi 20 tahun - > 25 tahun juga aktif ditransaksikan, meskipun dalam jumlah yang kecil.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading