IHSG Terjun Bebas 3,55%, Terburuk Sejak November 2016

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
13 August 2018 16:52
IHSG Terjun Bebas 3,55%, Terburuk Sejak November 2016
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 3,55% ke level 5.861,25 pada perdagangan pertama di pekan ini. Kejatuhan ini merupakan yang terdalam sejak 11 November 2016. Kala itu, IHSG jatuh sebesar 4,01%.

Pelemahan IHSG senada dengan bursa saham kawasan Asia lainnya yang juga terjun ke zona merah. Namun tetap saja, performa IHSG menjadi yang terburuk: indeks Nikkei turun 1,98%, indeks Shanghai turun 0,32%, indeks Hang Seng turun 1,52%, indeks Strait Times turun 0,97%, indeks Kospi turun 1,5%, indeks SET (Thailand) turun 0,96%, dan indeks KLCI (Malaysia) turun 1,24%.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 7,95 triliun dengan volume sebanyak 8,94 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan adalah 374.729 kali.


Rupiah yang babak-belur memaksa investor melakukan aksi jual secara besar-besaran. Sampai akhir perdagangan, rupiah melemah 0,83% di pasar spot ke level Rp 14.590/dolar AS. Rupiah bahkan sempat menyentuh titik terlemahya di level Rp 14.625/dolar AS, dimana ini merupakan posisi terlemah sejak September 2015 silam.

Faktor internal dan eksternal menekan pergerakan rupiah. Dari dalam negeri, Investor merespon negatif melebarnya defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) kuartal-II 2018 yang menembus level 3% dari PDB, yakni di level 3,04%. Padahal pada kuartal-I 2018, defisitnya hanya sebesar 2,21% dari PDB.

Capaian ini terbilang cukup bersejarah. Pasalnya, kali terakhir CAD menyentuh level 3% dari PDB adalah pada kuartal-III 2014 silam. Pada 3 bulan kedua tahun ini, nilai nominal dari CAD mencapai US$ 8,03 miliar, sementara pada kuartal-I nilainya hanya sebesar US$ 5,72 miliar.

Akibat melebarnya CAD, defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) melebar menjadi US$ 4,31 miliar, dari yang sebelumnya US$ 3,86 miliar.

Dari sisi eksternal, tekanan datang dari krisis ekonomi yang terjadi di Turki. Pada hari Jumat kemarin (10/8/2018), nilai tukar lira terdepresiasi hingga 16% di pasar spot melawan dolar AS. Kejatuhan lira terjadi pasca Presiden AS Donald Trump menyetujui pengenaan bea masuk bagi impor baja asal Turki sebesar 50%. Aluminium juga kena bea masuk 20%.

"Saya telah menyetujui penggandaan tarif bea masuk untuk baja dan aluminium kepada Turki, karena mata uang mereka melemah terhadap dolar AS kami yang begitu kuat! Hubungan kami dengan Turki tidak baik pada saat ini!" tegas Trump melalui cuitan di Twitter, akhir pekan lalu.

Kebijakan Trump ini merupakan balasan terhadap langkah Turki yang menahan seorang Pastur asal AS, Andrew Brunson. Pemerintah Turki menuding Brunson sebagai salah satu pendukung upaya kudeta pada 2016. Brunson menolak tuduhan tersebut, tetapi nasibnya masih terkatung-katung.

Upaya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk meredakan tekanan terhadap lira dengan menyuruh masyarakatnya menukarkan dolar AS dan emas yang dimilikinya tak direspon positif oleh pelaku pasar.

Pada perdagangan hari ini, lira kembali merosot sebesar 6,33% melawan dolar AS.

Seiring dengan pelemahan rupiah, saham-saham perbankan pun menjadi bulan-bulanan investor, mendorong indeks sektor jasa keuangan amblas 4,16% dan menjadikannya sektor dengan kontribusi terbesar bagi pelemahan IHSG.

Saham-saham emiten perbankan yang dilepas investor diantaranya: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (-7,37%), PT Bank Negara Indonesia Tbk/BBNI (-7,21%), PT Bank CIMB Niaga Tbk/BNGA (-6%), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (-5,78%), dan PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (-2,3%).

Walaupun dampak pelemahan rupiah terhadap kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dari bank-bank di tanah air pada tahun ini bisa dibilang relatif terbatas jika dibandingkan dengan tahun 2015, perlu diingat bahwa sepanjang tahun 2017 harga saham emiten-emiten perbankan telah meroket naik, mendorong indeks sektor jasa keuangan melesat sebesar 41%.

Sepanjang tahun ini (sampai dengan penutupan perdagangan hari Jumat, 10/8/2018), koreksinya baru sebesar 3,3%. Ini artinya, ruang bagi investor untuk melakukan aksi ambil untung memang sangat besar.

Hal-hal apapun yang bisa memantik investor untuk melakukan aksi jual sangat mungkin untuk mendorong harga saham-saham perbankan turun dalam. Terlebih, di pasar saham biasanya memang berita negatif mendapat respon yang lebih besar ketimbang berita positif.

Selain sektor jasa keuangan, saham-saham sektor barang konsumsi juga gencar dilepas oleh investor. Pelemahan rupiah yang signifikan akan mendrong naik harga barang-barang impor dan berpotensi menekan konsumsi masyarakat. Padahal, konsumsi masyarakat baru saja menggeliat pada kuartal-II kemarin.

Saham-saham emiten barang konsumsi yang dilepas investor diantaranya: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk/ICBP (-4,74%), PT HM Sampoerna Tbk/HMSP (-3,71%), PT Mayora Indah Tbk/MYOR (-2,67%), PT Gudang Garam Tbk/GGRM (-2,6%), dan PT Unilever Indonesia Tbk/UNVR (-2,18%).

Efek samping lainnya dari pelemahan rupiah adalah aksi jual investor asing, dengan nilai bersih sebesar Rp 646,88 miliar. 5 besar saham yang dilepas investor asing adalah: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (Rp 214,2 miliar), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (Rp 173,7 miliar), PT Bank Negara Indonesia Tbk/BBNI (Rp 106,4 miliar), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (Rp 68,2 miliar), dan PT United Tractors Tbk/UNTR (Rp 66,1 miliar).

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading