Harga Minyak Tinggi, ASEAN Harus Hati-hati Beri Subsidi

Market - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
16 July 2018 16:55
Harga Minyak Tinggi, ASEAN Harus Hati-hati Beri Subsidi
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan pemerintahan negara-negara ASEAN berhati-hati dalam memberikan subsidi energi. Menurut IEA harga minyak pada 2018 dan 2019 akan sangat dipengaruhi penurunan produksi minyak Venezuela dan kemungkinan dampak sanksi terhadap Iran. 

"Jika ekspor dari negara-negara ini turun tajam, maka perlu bagi produsen lain untuk mengisi kesenjangan jika kita ingin menghindari kemungkinan harga naik tajam," ujar Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol kepada media saat dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (16/7/2018).

"Pasalnya, harga minyak yang tinggi merugikan konsumen dan memberikan tekanan pada pemerintah untuk memberikan subsidi dengan hati-hati," tambahnya.


Fatih mengatakan, hingga saat ini permintaan minyak masih tingggi. Permintaan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) diperkirakan akan mencapai sekitar 12% dari total permintaan global.

Impor minyak di ASEAN saat ini menghabiskan biaya sebesar US$ 65 miliar, yang akan naik menjadi US$ 280 miliar setahun pada 2040 mendatang di bawah kondisi kebijakan saat ini.

Di Indonesia, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (16/7/2018) ini, impor migas Juni 2018 mencapai US$2,12 miliar atau turun 26,11 persen dibanding Mei 2018, sebaliknya meningkat 32,09% dibanding Juni 2017.

Sebagai informasi, dalam rilis statistik untuk Mei 2018 kemarin, BPS mencatat, pada tahun ini, sepanjang Januari - Mei 2018 neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit US$ 2,83 mliar, lantaran impor yang melonjak lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Data BPS menunjukkan, impor migas pada Mei 2018 lalu merupakan impor tertinggi sejak 2015. Impor tinggi ini menjadi penyumbang besar pada defisitnya neraca perdagangan Indonesia di periode tersebut.

Berdasarkan data BPS yang didapat oleh CNBC Indonesia, pada periode Mei 2018 impor migas tercatat sebesar US$ 2,81 miliar atau setara Rp 40,42 triliun.

"Defisit (neraca perdagangan Mei 2018) sebenarnya banyak dipengaruhi oleh sektor migas, selalu, kalau kita bicara soal migas itu selalu negatif terus sejak beberapa tahun terakhir ini," ujar Direktur Statistik Distribusi BPS, Anggoro Dwitjahyono, kepada CNBC Indonesia, Selasa (10/7/2018).

Menurut data dari lembaga statistik pelat merah tersebut, defisit migas konstan terjadi di neraca perdagangan Indonesia sejak 2013. 

Produksi yang timpang dibandingkan kebutuhan konsumsi membuat Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya harus mengimpor minyak ratusan ribu barel per hari.

Menurut data wordtopexports.com, sepanjang 2017 nilai impor minyak mentah Indonesia mencapai US$ 8,2 miliar atau setara Rp 117,2 triliun (dengan kurs Rp 14.300). Nilai ini menjadikan Indonesia sebagai importir crude (minyak mentah) terbanyak kedua di Asia Tenggara.

Peringkat 1 dan 2 masing-masing diduduki oleh Singapura sebanyak US$ 21,4 miliar dan Thailand US$ 20,1 miliar. Adapun rincian peringkatnya adalah sebagai berikut;
  1. Singapura US$ 21,4 miliar
  2. Thailand US$ 20,1 miliar
  3. Indonesia US$ 8,1 miliar
  4. Malaysia US$ 3,9 miliar
  5. Filipina US$ 3,5 miliar
  6. Brunei Darussalam US$ 1,6 miliar
  7. Vietnam US$ 93,2 juta 
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading