Rupiah Perkasa di Asia Tenggara, Tapi Loyo di Eropa

Market - Raditya Hanung Prakoswa, CNBC Indonesia
29 June 2018 17:15
Rupiah Perkasa di Asia Tenggara, Tapi Loyo di Eropa
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup pekan ini dengan gembira. Pasalnya, rupiah mampu digdaya di hadapan berbagai mata uang.

Pasalnya, pada hari Jumat (29/6/2018), rupiah mampu ditutup menguat 0,42% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tidak hanya terhadap greenback, rupiah superior terhadap berbagai mata uang di Asia Tenggara.

Di sisi negatifnya, rupiah masih kurang bertenaga melawan sejumlah mata uang di Asia dan di Eropa, meski mampu menguat terhadap Yuan China. Berikut perkembangan nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang lainnya pada pukul 16:23 WIB, mengutip data Reuters:


Mata UangBid TerakhirPerubahan (%)
Yen Jepang129,39           +0,60
Yuan China2.163,18+0,29
Won Korea Selatan12,85-0,23
Dolar Taiwan470,75-0,09
Rupee India209,15-0,11
Dolar Singapura10.506,05+0,09
Ringgit Malaysia3,545+0,14
Peso Filipina268,09+0,26
Euro16.676,06-0,27
Poundsterling Inggris18.851,70-0,22

Rupiah mendapat momentum penting untuk menguat setelah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dinaikkan sebesar 50 basis poin ke posisi 5,25%. Hal ini mempertimbangkan faktor ekonomi global terutama mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve/The Fed yang diperkirakan mencapai empat kali tahun ini.

Kenaikan suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate yang sebesar 50 basis poin mlampaui perkiraan pasar. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI hanya menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin. 
BI menegaskan ingin membuat pasar keuangan Indonesia lebih kompetitif sehingga arus modal asing tertarik masuk ke Indonesia. 

Dari sisi eksternal, lesunya dolar AS juga menjadi bahan bakar tambahan bagi penguatan rupiah. Dollar Index, yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia, melemah cukup signifikan sebesar 0,60% ke 94,81 hingga pukul 16:30 WIB.

Dalam sepekan terakhir, Dollar Index memang sudah menguat 0,31%. Angka ini mungkin cukup menggiurkan, sehingga investor pun tergoda untuk merealisasikan keuntungan. Aksi jual pun melanda dolar AS.

Tidak hanya itu, sebenarnya data-data terbaru di AS relatif kurang memuaskan. US Bureau of Economic Analysis merevisi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2018 dari 2,2% menjadi 2%. Ini di luar ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak ada revisi.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang berkontribusi sekitar 70% dari aktivitas ekonomi AS, direvisi menurun ke 0,9% dari sebelumnya sebesar 1%. Alhasil, pertumbuhan pengeluaran konsumen AS kuartal I-2018 menjadi yang terlambat dalam hampir lima tahun terakhir.

Berita buruk berikutnya adalah angka klaim tunjangan pengangguran yang pekan lalu naik 9.000 menjadi 227.000. Ini juga di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan 220.000. Dua kabar ini menandakan perekonomian AS masih belum pulih 100%, belum ada indikasi ekonomi bergerak terlalu cepat di luar kapasitasnya.

Ujungnya adalah bisa saja The Fed agak memperlambat tempo kenaikan suku bunga acuan. Saat The Fed menjadi kurang agresif dalam menaikkan suku bunga, maka itu menjadi sentimen negatif bagi dolar AS.

Euro Berjaya

Namun, rupiah masih kurang bertaji di hadapan mata uang Uni Eropa, euro. Mata uang Benua Biru mendapatkan energi positif dari 28 pemimpin Uni Eropa yang mencapai kesepakatan terkait para imigran.

Setelah perdebatan sengit, akhirnya para pemimpin Eropa sepakat untuk membagi beban pengungsi secara sukarela dan membangun pusat pengendali untuk memproses kedatangan mereka. Negara-negara Uni Eropa juga sepakat untuk membagi tanggung jawab untuk menampung imigran yang diselamatkan di laut lepas. 

Para pemimpin negara Uni Eropa pun lega. Angela Merkel, Kanselir Jerman, mengakhiri pertemuan dengan mata berkaca-kaca. 

"Italia kini tidak sendiri," ujar Giuseppe Conte, Perdana Menteri Italia, dikutip Reuters. Sebelumnya, Conte menegaskan tidak akan hadir di pertemuan Uni Eropa jika tidak kesepakatan negara-negara lain membantu Italia menolong imigran yang terkatung-katung di Laut Mediteriania. 

"Kesepakatan soal pengungsi ini mengurangi beban negara seperti Italia. Juga mengurangi risiko Uni Eropa untuk terpecah-belah. Akhirnya euro pun merasakan dampak positifnya," kata Viraj Patel, Analis Mata Uang di ING.

Meredanya ketegangan
 politik di Uni Eropa ini lantas menjadi bahan bakar penguatan euro. Hingga pukul 16.54 WIB, euro ini tercatat menguat hingga 0,65% terhadap dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(RHG/RHG)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading