Disokong Pidato Xi Jinping, Harga Minyak Naik

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
10 April 2018 10:46
Disokong Pidato Xi Jinping, Harga Minyak Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak global melanjutkan tren positifnya pagi ini, setelah sebelumnya sempat menguat terbatas dihantui oleh peningkatan cadangan minyak Amerika Serikat (AS). Kenaikan harga minyak dipicu pidato Xi Jinping yang mampu menghembuskan angin sejuk bagi perkembangan perang dagang AS-China.

Hingga pukul 09.46 WIB, harga minyak light sweet kontrak pengiriman Mei 2018 naik 0,66% ke US$63,84/barel, sementara Brent kontrak pengiriman Juni 2018 juga menguat 0,52%% ke US$ 69,01/barel.

Sebelumnya, penguatan harga minyak masih terbatas seiring investor yang masih mewaspadai rilis data cadangan minyak AS. Data dari American Petroleum Institute akan dirilis pada esok dini hari pukul 03.30 WIB, sementara data resmi dari pemerintah AS akan dirilis besok malam pukul 21.30 WIB.


Berdasarkan konsensus yang dihimpun Reuters, cadangan minyak AS diprediksikan meningkat moderat sekitar 200.000 barel dalam sepekan hingga tanggal 6 April.

Kuatnya produksi minyak mentah AS memang terus memberikan tekanan bagi usaha Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk mengetatkan pasar minyak global dengan memangkas produksi hingga akhir tahun ini. Saat ini produksi minyak Negeri Paman Sam telah mencapai 10,46 juta barel per hari (bph), menempatkan AS sebagai produsen minyak terbesar kedua di dunia, tipis saja di bawah Rusia yang memproduksi 11 juta bph.

Namun demikian, pidato Presiden China Xi Jinping di Boao Forum untuk Asia pagi ini berhasil mengerek harga minyak lebih kuat. Dalam pidatonya, Xi menyampaikan rencana untuk mengambil kebijakan ekonomi Negeri Tirai Bambu yang lebih terbuka. Hal tersebut termasuk menurunkan tarif impor secara signifikan untuk produk otomotif dan lainnya, serta meningkatkan iklim investasi untuk perusahaan asing.

Sebagai tambahan, presiden seumur hidup tersebut juga akan mengambil inisiatif untuk meningkatkan impor tahun ini, serta "bekerja keras" untuk mengimpor produk yang dibutuhkan oleh masyarakat Negeri Tirai Bambu.

"Kita akan tetap berkomitmen kepada keterbukaan, konektivitas, dan keuntungan bersama, membangun ekonomi global, dan memperkuat kerja sama antara G-20, APEC, dan kerangka multilateral lainnya. Kita harus mempromosikan perdagangan serta liberalisasi investasi, (untuk) mendukung sistem perdagangan multilateral", ucap Xi.

Sementara di AS, sepertinya urat leher Presiden Donald Trump juga agak mengendur. Eks taipan properti itu mengatakan bahwa sepertinya Washington bisa mencapai kesepakataan dengan Beijing soal perdagangan.

"Jika kami mencapai kesepakatan dengan China, yang bisa terjadi, tetapi bila tidak mereka harus membayar pajak yang lebih besar bila ingin berbisnis di negara ini," sebut Trump usai sidang kabinet kemarin, seperti dikutip dari Reuters.

Perkembangan ini merupakan sentimen positif harga minyak, seiring menjadi indikasi meredanya perang dagang antara Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu. Pasalnya, jika perekonomian dunia menjadi lesu akibat perang dagang, permintaan atas minyak mentah sebagai sumber energi utama dipastikan akan ikut turun.

(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading