Dolar AS 'Balas Dendam'

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
21 February 2018 16:58
Angin memang tengah mengarah kepada greenback, yang menguat terhadap berbagai mata uang dunia.
Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak melemah sepanjang hari ini. Angin memang tengah mengarah kepada greenback, yang menguat terhadap berbagai mata uang dunia. 

Pada perdagangan Rabu (21/2/2018), nilai tukar rupiah di pasar spot pada pukul 16.00 WIB berada di Rp 13.618/dolar AS. Melemah 0,28% dibandingkan posisi pukul 09.00 WIB. 

Reuters
Sepanjang hari ini, dolar AS memang bergerak menguat. Dollar Index, yang mencerminkan posisi dolar AS di hadapan enam mata uang utama dunia, naik 0,03% pada pukul 16.00 WIB. 


Reuters
Pergerakan dolar AS beberapa hari ini seakan "balas dendam" atas pelemahan yang terjadi sejak awal tahun. Secara year to date (YtD), dolar AS masih melemah cukup tajam terhadap sejumlah mata uang. Namun terhadap rupiah dan beberapa mata uang lain, greenback masih menguat. 

Reuters
Greenback mendapat angin setelah investor cenderung memegang dolar menantikan rilis minutes meeting bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Dalam minutes meeting diharapkan akan muncul arah yang lebih jelas mengenai kebijakan moneter AS ke depan. 

Pasar mengantisipasi The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan bulan depan. Dolar AS akan diuntungkan dengan kenaikan suku bunga, karena inflasi mata uang ini diperkirakan bisa mereda. 

Namun, penguatan dolar AS sepertinya lebih karena faktor teknikal yang temporer. Secara fundamental, ada beberapa faktor yang bisa membebani greenback. 

Pertama adalah pemulihan ekonomi global yang kini lebih merata. AS bukan satu-satunya kekuatan yang berani menaikkan suku bunga. Eropa (dan bahkan Jepang) sudah tidak malu-malu bicara soal pengetatan kebijakan moneter seiring ekonomi domestik yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan. 

AS bukan lagi satu-satunya negara maju yang berani menawarkan suku bunga tinggi. Investor pun akan punya lebih banyak pilihan dalam menempatkan dananya. Pergerakan dolar AS akan semakin terbatas. 

Kedua adalah kebijakan pemerintahan AS sendiri yang akan lebih jor-joran dalam belanja. Defisit anggaran diperkirakan naik, dan itu harus dibiayai melalui penerbitan obligasi. Agresifnya penerbitan obligasi oleh pemerintahan Presiden Donald Trump akan membuat likuiditas dolar banjir. Akhirnya nilai mata uang ini bisa menurun karena terlalu banyak suplai.
(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading