Pendapatan Non Bunga Bank Kian Moncer di 2017

Market - gita rossiana, CNBC Indonesia
06 February 2018 19:29
Pendapatan Non Bunga Bank Kian Moncer di 2017
Jakarta, CNBC Indonesia - Perbankan membukukan laba yang cukup fantastis pada 2017 atau bertumbuh dua digit. Namun kontributor yang mencolok dari laba tersebut bukan berasal dari pertumbuhan pendapatan bunga, melainkan pendapatan non bunga.

Seperti misalnya di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, pertumbuhan pendapatan bunga Bank Mandiri pada 2017 hanya mencapai 3,6% ke angka Rp 79,5 triliun.

Sementara pendapatan berbasis biaya (fee based income) bertumbuh 16,4% ke angka Rp 23,34 triliun. Kedua sumber tersebut mengkontribusi perolehan laba bersih Bank Mandiri pada 2017 ke angka Rp 20,6 triliun, bertumbuh 49,5% (year on year/yoy).


“Pertumbuhan bunga bersih kami tidak begitu besar karena pertumbuhan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menurun jauh. Namun dari sisi fee based income bertumbuh cukup besar yang berasal dari sisi treasury, forex, dan juga fee dari segmen wholesales sindikasi dan sumber-sumber lainnya,” ucap dia saat ditemui usai paparan kinerja Bank Mandiri, Selasa (6/2/2018).

Begitu juga dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengungkapkan, pada 2017, pertumbuhan laba bersih BNI mencapai Rp 13,62 triliun, bertumbuh 20,1% (yoy). Menurut Baiquni, pertumbuhan pendapatan non bunga bertumbuh lebih tinggi, yakni 8,59% daripada pertumbuhan bunga bersih yang hanya 6,5% (yoy).

“Pendapatan bunga bersih turun karena NIM kami turun dari 6,2% menjadi 5,5%, ini adalah respon kami terhadap penurunan suku bunga acuan. Kemudian dari fee based income, kami ingin mengembangkan fungsi digital banking, mengoptimalisasi layanan trade finance, bank garansi dan layanan lainnya,” terang dia.

Selanjutnya, Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengungkapkan, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat, perolehan laba bersih konsolidasi sepanjang 2017 senilai Rp 29,04 triliun. Nilai tersebut bertumbuh 10,7% dibandingkan periode 2016 yang mencapai  senilai Rp 26,22 triliun.
 
Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menjelaskan, perolehan laba tersebut berasal dari pendapatan bunga yang mencapai Rp 73 triliun pada 2017, bertumbuh 11,6% (year on year/yoy).  Sementara sumber lainnya adalah pendapatan biaya dan pendapatan operasional yang bertumbuh 12,3% ke angka Rp 19,09 triliun.

Menurut Haru, pihaknya memang sedang menurunkan NIM yang sebelumnya berada di atas 8% menjadi di kisaran 7,78%. Penurunan NIM ini merupakan bentuk penyesuaian BRi terhadap era suku bunga rendah.

“Dengan NIM rendah, kesehatan kredit jauh lebih bagus dan kami bisa menyiapkan aktivitas yang bisa menghasilkan pendapatan di luar bunga seperti produk yang berkaitan dengan anak usaha seperti bancassurance, jasa pembayaran, jasa pelayanan dan lainnya,” terang dia.

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading