Bursa Saham Asia Anjlok Respons Koreksi Dalam Wall Street

Market - Houtmand P Saragih & Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
05 February 2018 08:03
Ada kekhawatiran suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed Fund Rate) akan naik, setelah laporan data pengangguran AS kurang memuaskan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama Asia, pagi ini mayoritas dibuka terkoreksi merespons koreksi dalam pasar saham Amerika Serikat (AS) pekan lalu. Ada kekhawatiran suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed Fund Rate) akan naik, setelah laporan data tenaga kerja AS dilaporkan melebihi ekspektasi.

Bursa saham Jepang pada perdagangan pagi ini berada di zona merah, dimana indeks Nikkei turun dalam 2,%%. Indeks Hang Seng turun 0,12%, indeks Shanghai naik 0,44%, indeks Kospi turun 1,59% dan indeks Strait Time terkoreksi 0,49%.
 
Pemicu bursa utama terkoreksi pagi ini adalah penurunand alam bursa di Wall Street. Akhir pekan lalu, Dow Jones anjlok 2,54% ke 25.520,96, S&P 500 turun 2,12% menjadi 2.762,13 dan Nasdaq melemah 1,96% ke 7.240,95.
 
Wall Street sepertinya mengambil nafas yang cukup dalam setelah berkali-kali mencetak rekor. Investor Negeri Paman Sam mengalihkan dananya dari pasar saham ke obligasi, setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah naik dan menyentuh kisaran 2,7%. Ini merupakan level tertinggi sejak Januari 2014.
 
Selain kalah saing dengan obligasi, bursa saham AS juga sudah menguat cukup signifikan. Setelah koreksi pekan lalu, Dow Jones masih menguat 3,24% secara YtD. Sedangkan S&P 500 masih positif 3,31% dan Nasdaq bahkan masih ada penguatan 5,69%.
 
Biro statistik AS juga melaporkan lapangan kerja yang tersedia mencapai angka 200 ribu, lebih tinggi dari prediksi 180 ribu. Data tersebut disampaikan Jumat pekan lalu.

Selain itu, pekan lalu Alan Greenspan juga menyampaikan ada bubble di pasar saham dan obligasi. Hal tersebut sempat menjadi perhatian pelaku pasar.



(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading