11 BUMN Karya Catatkan Pendapatan Rp 175,77 T pada 2017

Market - Arys Aditya, CNBC Indonesia
22 January 2018 22:27
Kinerja pendapatan 11 perusahaan pelat merah bidang konstruksi dan tol tercatat Rp175,77 triliun sepanjang 2017, dari posisi 2016 yang hanya Rp100,77 triliun.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja pendapatan usaha 11 perusahaan pelat merah bidang konstruksi dan tol tercatat Rp175,77 triliun sepanjang 2017, dari posisi 2016 yang hanya Rp100,77 triliun.

Deputi Usaha Konstruksi, Sarana dan Prasarana Perhubungan (KSPP) Ahmad Bambang mengemukakan secara tahun jamak (compound annual growth rate/CAGR) selama 5 tahun, pendapatan usaha ini mencatat 23%.

Sementara, CAGR laba mencapai 30,6%. “Dari sisi laba, pada tahun 2017, BUMN karya bisa mendapatkan Rp11,24 triliun dari tahun 2016 yakni Rp6,68 triliun,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VI, Senin (22/1).


Bambang menambahkan dalam kurun 5 tahun hingga 2017, belanja modal (capital expenditure/capex) secara rata-rata tumbuh 23%, dari Rp6,84 triliun pada 2013 menjadi Rp21,41 triliun pada 2016 lalu melesat jadi Rp114,7 triliun tahun lalu.

“Peningkatan belanja modal ini sebagian besar merupakan alokasi untuk belanja modal proyek penugasan oleh pemerintah,” ungkap Bambang.

Utang
Selain mencatatkan peningkatan pendapatan dan laba, 11 perusahaan pelat merah juga mencetak kenaikan pesat utang pada 2017. Secara akumulatif, utang BUMN karya mencapai Rp156,99 triliun.

Berdasarkan paparan Deputi Usaha Konstruksi, Sarana dan Prasarana Perhubungan (KSPP) Ahmad Bambang di hadapan Komisi VI DPR, Senin (22/1), angka utang itu melesat dari posisi 2016 sebesar Rp96,23 triliun.

Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA), PT Waskita Karya Tbk. (WSKT), PT Adhi Karya Tbk. (ADHI) dan PT Jasa Marga Tbk. (JSMR).

Dengan posisi utang tersebut, rasio utang terhadap ekuitas atau debt-to-equity ratio (DER) perusahaan-perusahaan pelat merah karya nyaris mencapai tiga kali, atau persisnya 2,99 kali.

Level DER tersebut sekaligus menandai posisi yang tertinggi sejak 2014. Pada 2015, posisi DER dari 11 perusahaan tersebut hanya 2,17 kali dan 2,10 kali pada 2016.

Dalam paparannya, Ahmad Bambang mengemukakan skema pengembalian atas pinjaman dilaksanakan melalui penerimaan kas dari aktivitas operasi untuk jangka pendek.

“Sedangkan untuk jangka panjang akan ditutup dari pengembalian investasi atau refinancing pembiayaan yang lebih kompetitif,” ujarnya.
Artikel Selanjutnya

BUMN Karya Gencar Kejar Proyek Hingga ke Luar Negeri


(hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading